Dayak Community

Dayak Community
Dayak Ornamern

Tabe' Art and Culture

TABE' Ngau Bala Urang Banyau
Kami ngarap penatai kita' tau bebagi penemu, pengerakau abak
pengarap ngau ngemaju Sanggar kita to'

Sanggar Sengalang Burong Jalai Peniau bala Ibanic ngau mesai seni abak budaya


( NYULOK DATAI KE PUCOK, NIKE' DATAI KE BUAH )
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 30 Maret 2016






TARI DAERAH KABUPATEN SEKADAU
John Roberto P, S.Sn.,M.Si  ( 20 Mei 2010 )



  1. TARI PEDANG  DARI SUKU DAYAK MUALANG ( Ibanik Group )
KALIMANTAN BARAT.

Tari Pedang ( Nyabor ) pada masyarakat Dayak Mualang ( Ibanik Group) dahulu kala dikenal sebagai Ritual Pemujaan Pedang sebelum seseorang akan pergi Mengayau ( head hunter ). Mengayau atau memenggal kepala adalah suatu syarat bagi seorang laki-laki yang beranjak dewasa apabila ia akan membina rumah tangga dalam pengertian yang berhubungan kepercayaan saat itu, ia akan mampu menjaga keluarganya dari serangan suku-suku lainnya di jaman pengayauan, sebab masa itu sebagian besa suku Dayak memiliki tradisi mengayau. 

Ritual tari pedang ini diawali dengan suau upacara adat yang dipimpin oleh ketua adat dengan mengundang roh-roh leluhur untuk memohon petunjuk dan memberikan kemudahan bagi si anak laki-laki yang akan melakukan ekspedisi Mengayau.
Adapun Roh-roh leluhur yaitu: para leluhur sakti atau Panglima Perang yang berhubungan dengan dunia dewa-dewi ( Sak Pangau ) yang di sebut Tuwak dalam bahasa Mualang, di undang untuk hadir dan menemani sang anak mengayau yaitu:

  1. Tuwak Minai
  2. Tuwak Keling
  3. Tuwak Labong
  4. Tuwak Hijau
  5. Tuwak Pungak
  6. Tuwak Laja
  7. Dsb ( sesuai keinginan dan diperkirakan cukup, karena setiap tuwak punya keahliannya masing-masing dalam pengayauan )

Adapun maksud dari mengundang roh-roh leluhur yaitu mengharapkan petunjuk yang dipesan melalui mimpi. Selain itu ketua adat juga menganjurkan kepada si anak agar memperhatikan tanda-tanda dari Sengalang Burong ( Burung Keramat / burung petuah )
Diantaranya: Burung Gemuas, Burong Bejampong dsb. Setelah mendapatkan tanda-tanda maka sang anak akan memberitahukan kepada Ketua adat dan ketua adat memberikan petuah. Selanjutnya maka Ketua adat menghamburkan beras kuning dan mulailah sang anak melakukan pemujaan terhadap pedang dengan cara menari.

Adapun Ritual Pemujaan Pedang diawali dengan:

  1. Menyembah dan menitipkan perintah / pesan kepada pedang ( seolah-olah ada komunikasi si anak dan pedangnya tersebut.

  1. Mengelilingi Pedang sebanyak 3 ( tiga ) kali, kemudian mengambil pedang dan diikatkan di pinggangnya. Pada saat mengikat pedang sang anak melakukan gerakan yang disebut: Langkah Pecah Empat.

  1. Ketika pedang telah terikat, gerakan semangkin cepat, kemudian sang anak melakukan gerakan Langkah Pecah Dua Belas.

  1. Gerakan selanjutnya yaitu: meletakkan pedang pada posisi baring di bahu sambil memutarkannya, hingga pedang tersebut dapat berpindah  ke kiri dan kanan  dan gerakan tarian Pedang diakhiri dengan menyembah menghadap ke depan.

Jika semua ritual Pemujaan pedang, yang didalamnya memuat tari sebagai bagian dari ritualisme seorang ksatria yang akan turun mengayau selesai dilakukan, maka keesokan harinya Sang anak harus segera berangkat mengayau, apabila terjadi hal-hal yang mengganggu keberangkatan hingga menyebakan batalnya ekspedisi mengayau pada hari akan pergi, maka ritual pemujaan pedang harus dilakukan lagi dari awal.

Ritual Pemujaan pedang, yang didalamnya memuat tari pedang sebagai bagian dari upacara ritual dalam pengayauan, diiringi oleh Instrumen atau tebah yang disebut: Tebah Unup yang terdiri dari: dua buah Tawaq ( Kempul ) dan dua Buah Entebung ( gendang panjang Dayak Mualang )

Sedangkan Kostum yang digunakan oleh Sang Anak / Ksatria yaitu: Rompi Maram lengkap sirat, Tengkulas ( lilitan kepala ), Tengkelai ( gelang lengan ), dan gelang giring.

Di masa kini Kegiatan Mengayau telah tidak ada lagi sejalan dengan tingkat pengetahuan dan Agama telah masuk ke komunitas Dayak Mualang, tetapi pemujaan pedang kadang kala masih dilakukan sebatas bagian Tari Pedang. Tari Pedang yang merupakan warisan nenek moyang dimasa lalu tidak berubah, namun disesuaikan dengan gaya atau gerak orang masing yang menarikannya. Sedangkan Upacara adat memanggil roh leluhur / Dewa – dewi khayangan sudah tidak dilakukan lagi.

Masyarakat Mualang sangatlah komiten agar tidak melakukan pemanggilan leluhur dalam melakukan tari pedang sejalan dengan perkembangan jaman, karena jika dilakukan ritual pemanggilan roh leluhur, konsekwensinya harus melakukan ekspedisi Mengayau, jika tidak maka yang bersangkutan dan masyarakat pendukungnya di percaya akan mengalami mala petaka.

 Urutan Tari Pedang setelah ritual pedang tidak dilakukan lagi:

1.        Penghormatan kepada pedang
2.        Penghormaan kepada orang di sekitar pedang
3.        Bunga Pincak
4.        Gerakan posisi setengah tiang
5.        Nyabut pedang
6.        Nyabut pedang secara perlahan-lahan, karena pedang mempunyai manna (kekuatan ) dengan gerakan langkah pecah empat
7.      Pedang diangkat diatas bahu, sambil ditarikan dan berputar tiga kali.
8.      Melakukan gerakan atau langkah pecah 12
9.      Melakukan gerakan memainkan pedang, seolah-olah melakukan gerakan berperang, dan siap turun perang
10.  Nyarong pedang ( memasukan pedang kembali kesarungnya ) kemudian pedang tersebut di lepaskan dari pinggang. dan diletakan tetap dengan gerakan tari.
11.  Penghormatan ( nyemah pedang ) dan memberikan penghormatan kepada orang-orang / tamu ( nyemah temuai )
12.  selesai





Sumber / Informan:

  1. Nama               : Edmundus Linggie
Umur               : 68 Tahun
Jabatan            : Temenggung Dayak Mualang Kampung Merbang
                          Kecamatan Belitang Hilir- Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat
    
  1. Nama               : Alm. Sutardianus Buan
Umur               : 46 Tahun
Alamat            : Dusun Merbang Desa Merbang
  Kecamatan Belitang Hilir  Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat.








Senin, 08 September 2014

Persembahan Tari di Sentubong, Serawak_Borneo 2014

Jumat, 27 Juni 2014



Biodata Pribadi

Nama                                       : John Roberto Panurian, S.Sn
Tempat Tanggal Lahir             : Sintang 23 September 1976
Status Kegiatan                       : Koreografer
Pekerjaan                                : ASN TB Prov Kalbar


Pengalaman Bidang Seni

1.      Menggarap Ulang tari Baliatn, tgl. 5 Mei 1995, Tempat: Auditorium Tari Institut Seni Indonesia ( ISI ) Yogyakarta
2.      Menjadi penari Burung Tinggang, 2 Juli 1996, Tempat: Gedung Senayan Jakarta
3.      Membuat Koreografi Tari Mandau 20 Mei 1996, Tempat Gedung Graha Sabha Pramana UGM Yogyakarta.
4.      Membuat Koreografi Tari Mengayau 20 Mei 1997, Tempat Panggung Kesenian Kampus Pertanian UGM Yogyakarta, dalam acara Gajah Mada Fair.
5.      Membuat Koreografi Tari Merindang 23 Desember 1997, Tempat di Studio Audio Visual.Stasiun Televisi Indosiar Cabang Kali Urang Yogyakarta
6.      Menjabat sebagai Koordinator I Keluarga Seniman Dayak Kalimantan Barat Yogyakarta ( KSDKB ) Periode 1995 – 1997.
7.      Bergabung sebagai anggota Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia ( MSPI ) sebagai Pecinta Tari Tradisi periode 1996 – 1999 di Yogyakarta.
8.      Menata Ulang Tari Baliatn 2 Versi Dayak Kanayatn, April 1998 di Auditorium Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Acara Ujian Komposisi Koreografi V.
9.      Membuat Koreografi Tari dengan Judul “ Tattoo” April 1999 di Auditorium Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta Dalam Ujian Komposisi Koreografi VI.
10.  Menciptakan Tarian Dengan Judul “Lang Ngindang” di pentaskan dalam Acara: Musik dan Tari Dayak Borneo, Produksi KSDKB, 1 Suro April 2000 tempat: di Pendopo Jenengan, Maguwoharjo, Sleman Yogyakarta.
11.  Di percaya sebagai Stage Kru dalam Acara: “ The Asia Modern Dance  Interaction III “ Tempat: Societet Militer, Beringharjo 16-18 Mei 2000.
12.  Di percaya Sebagai Pemeran Utama dalam pementasan Teater dengan Judul “ Rangga Benyawai “ Karya David Dino Wijaya, 26 Juni 2000 di Auditorium Teater, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
13.  Di percaya sebagai Stage Manager dalam Acara: Colaboration Mania, menampilkan karya Tari dengan judul: First Layer Karya Wendi MC Phee dari Australia di Auditorium Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta 15 Desember 2000.
14.  Menjadi Penari Tunggal tari Dayak dalam Acara Promosi Lukisan tentang Dayak Iban, Tempat di Embun Art Gallery, Wirobrajan Yogyakarta 30 Maret 2001 Pameran Tunggal danb Lukisan Karya Bapak Sopandi.
15.  Menciptakan Karya Tari dengan Judul “ Ajat Temuai Datai” Dayak Mualang 26 Januari 2002 sebagai Tugas Akhir Memperoleh Gelar Sarjana Seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Pengalaman di Kalimantan Barat


16.  Tari Dara Kenyalang. Karya: John R.P. Syukuran Gubernur dan Wakil Gubernur dengan  tema “ Harmonis dalam Ehnis”. Kalimantan Barat. Pada tanggal 14 Januari 2003 di Hotel Mahkota Pontianak.
17.  Tari Merindang Temuai. Karya: John R.P. Hut Pemda TK I Pontianak. Februari 2003 di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat.
18.  Dramatari Pertobatan di Tanah Dayak. Karya: John R.P. Natal Dayak, 24 Februari 2003 di Auditorium Universitas tanjungpura Pontianak.
19.  Kolaborasi Teater dengan Sanggar Terabai, Mendu. Mahkota yang Hilang. Performance Art. Penata Tari: John R.P. 8   maret 2003, di Gedung Kartini.
20.  Foto Model sosok Pria Dayak. Model: John R.P, Ida. Produksi Stasiun RCTI, dirumah Adat  (Betang) Pontianak, 23 Mei 2003.
21.  Tari Pinggan. Tradisi, Penari: Agung Mba. Pekan Budaya Anak Bangsa. Di Auditorium RRI, 27 April 2003.
22.  Tari Theatrikal. Teroris Ka’ banua Diri” Lanjutan Pekan Budaya Anak Bangsa. Koreografer: John R.P. 23 Mei 2003. Taman Budaya Pontianak.
23.  Tari Ajat Temuai Datai, tradisi. Penari: Sanggar Sengalang Burong dalam rangka resepsi perkawinan di Gereja MRPD Juli 2003 Pontianak.
24.  Pentas Dramatarimusikal, dalam show Semalam di Betang. Koreografer: John R.P. 7 Juni 2003.
25.  Pementasan Tari Tawaq. Karya: John R.P. Penyambutan Tamu dari Pangkal Pinang. Dipendopo Gubernur Provinsi Kalimantan barat.
26.  Pentas Theatrikal. Ketika Bunda Alam bicara. Penata Tari John R.P. Pada acara Apresiasi Musik Senggayong dari ketapang Agustus 2003 di Taman Budaya Pontianak.
27.  Tari Baliatn. Karya: John R.P. Pada pembukaan Festifal Seni Budaya Keraton Serumpun di Mempawah, 26 Agustus 2003.
28.  Pentas Kolaborasi dengan komunitas SILVA Fakultas Kehutanan. PC Untan. Hari Lingkungan Hidup. Koordinator: Beni Dermawan. Mei 2003 Pontianak.
29.  Kolaborasi dengan anak didik Teater Taman Budaya Pontianak. Tanah Airku. Pada peringatan Hut RI ke 58 di Pendopo Gubernur, Sutradara: John R. P. 17 Agustus 2003.
30.  Pentas Dramatarimusikal, “Don’t Cry Your Art and Culture”, Anomali. dalam. Berteduh di Betang. Koreografer: John R.P. September 2003.
31.  Opera Kabu-kabu. Sutradara: Heri Ansari. kolaborasi dengan bengkel teater, bengkel tari, bengkel musik dan beberapa kelompok kesenian serta seniman Pontianak. 27 September 2003  di Taman Budaya.
32.  Apresiasi Seni. Pada kunjungan Pekan Gawai Dayak II Kalimantan Barat di Yogyakarta. Pimpinan: John R.P. Dan kunjungan ke Lembaga Indonesia Perancis (LIP), Apresiasi seni ke STSI Surakarta dan Taman budaya Surakarta. 27 Oktober – 2 November 2003.
33.  Tari Baliatn. Karya John R.P. Dalam Rangka Festifal Tari Kreasi Kalimantan Barat dalam Event FBBK, sebagai penyaji dan penata tari terbaik Kalimantan barat 27 Desember 2003 di Pontianak.
34.  Utusan Kalimantan Barat dalam acara Parade Tari daerah se Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah.  Desember 2003 Jakarta.
35.  Peserta Kuis Siapa Berani, pada Stasiun Televisi INDOSIAR. Mewakili Kalimantan barat dan Juara II Favorit pemirsa dari lima wakil terbaik masing-,masing daerah di Indonesia. Desember 2003.
36.  Tari Menyumpit, pada bulan Februari 2004 di gedung kartini Pontianak dalam rangka deklarasi pendukung SBY.
37.  Menggarap Display Tari Nusantara pada acara Meratap dan Menatapi Nusantara 20 Juni 2004 dalam rangka hari Wahana Lingkungan Hidup ( WALHI), turut hadir artis Ibukota Franky Sihalatua.
38.  Pertobatan GKTI Kal-Bar dalam rangka simposium nasional di Pontianak. Bln Juli 2004
39.  Tari  Kelahiran Kembali pada acara Natal Rukun Ayong Mualang. Karya: Fransiskus Sukardi.  Januari 2004 Pontianak.
40.  Tari Pergaulan dan Visualisasi kelahiran Kristus. Penata Tari SSB. Pada Natal PTPN XIII, Januari 2004. Pontianak.
41.  Tari Kontemporer, Usah Nangis dalam acara Pisah sambut Bupati Kabupaten Pontianak 12 April 2004, Mempawah.
42.  Membuat Klip Lagu daerah Jangkang, Krio dan Mualang, berkerjasama dengan Stasiun TVRI Pontianak. Penata Gerak John R.P. Kalimantan Barat. April 2004, Pontianak.
43.  Membina Seni Tari Sebagai Asisten Koreografer pada kegiatan MTQ ke XXI Tk. Nasional di Putusibau Kalimantan Barat Tgl. 3 Maret 2005
44.  Menggarap Ulang Tari Nyambut Temuai 13 Mei 2008 dalam acara Penyambutan Kepala Staf Angkatan Udara di Bandara Supadio. Koreografer: John Roberto P.
45.  Membuat Tari dengan judul: Perjalanan Notokng, untuk Sanggar Banyuke dalam acara Festival Tari Kreasi Gawai Dayak Kalimantan Barat 21 Juni 2008, mendapat Juara II se-Kalimantan Barat. Koreografer John Roberto P.
46.  Mencipta Tari dengan Judul: Main Lalau 4 Juni 2008 di Tampilkan di Gedung JCC Jakarta Senayan. Koreografer: John Roberto P.
47.  Menarikan tarian dengan judul, Ngajat Bado’ Ngayau di Taman Budaya Surakarta Jawa Tengah  bekerjasama dengan Christian Mara, di usung olkeh Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat tgl. 13-15 Agustus 2008.
48.  Ikut Dalam Silahturami Budaya Dayak Seluruh Kalimantan di Percaya dari SEKBERKESDA,  sebagai penanggung jawab bidang Pertunjukan Seni. Tgl. 4 – 7 Desember 2009 di Kuching Serawak dan di Negara Bagian Sabah Malaysia.Dalam acara Kerjasama Kebudayaan, Pendidikan, Social dan Budaya yang di motori MADN Kalimantan, umumnya, Kalimantan Barat Khususnya dengan SDNU Serawak Malaysia.
49.  Ikut Menari dalam prosesi Penyambutan para Fotografer dan Artis dari Jakarta salah satunya Jay Subiakto yang diselenggarakan Asosiasi Arsitek Kalimantan Barat Pontianak di rumah Betang Sutoyo hari Jumat 6 Februari 2009
50.  Sebagai Pimpinan Produksi Grafhic Entertain, Kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Unit Taman Budaya Kalimantan Barat mempersembahkan Gelar Seni Tari Tradisi dan Kreasi pada tanggal 21 April 2009 di Teater Taman Budaya.
51.  Koreografer Tari Dayak dalam Olympiade dan Seni Tingkat Provinsi Kalimantan Barat 3 – 5 Mei 2009 di Pontianak
52.  Menjadi Koreografer dalam tari Democration Dream dalam Gelar Tari kreasi di Taman Budaya, Juni. 2009
53.  Menjadi Koreografer dalam Acara Hari Besar Nasional 20 Mei 2009 Menampilkan Karya tari berjudul: Merah Putih di Taman Budaya Kalimantan Barat.
54.  Memimpin Pementasan Tari Berjudul; Bemain Ngutek Pangan dalam rangka 17 Agustus 2009 di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat.
55.  Memimpin Sanggar pada Upacara Adat Penyambutan Rombongan Tamu Kenegaraan SDNU dan Menteri Kebudayaan Negara Bagian Serawak Malaysia Tgl. 22 November 2009 di Bandara Supadio. Menampilkan Tarian Ajat Temuai Datai.
56.  Memimpin Sanggar pada Acara Penyambutan Tamu dari Negara tetangga, Serawak Bidayuh asosiation, dalam rangka kunjungan ke rumah Adat Dayak kalimantan barat tgl. 24 November 2009.
57.  Memimpin Pertunjukan Dalam Rangka Konsiliasi Taruna Merah Putih yang dihadiri Kangen Band 2009
58.  Pentas di Hotel kartika Pontianak Dalam Rangka Pertemuan Pemuka Kristen Nusantara tgl. 5 November 2009 menampilkan Ngajat dan tari Dara.
59.  Pentas tari Tawaq Ke Ambon Dalam Rangka Pertemuan Kepala Museum Nusantara tgl 6 – 9 November 2008
60.  Ikut Pawai Budaya FBBK bergabung dengan Dewan Adat Dayak Kalbar tgl. 11 November 2009 meraih juara 3 Kategori Ethnik.
61.  Ngisi Acara Perkawinan di Gor Bumi Raya Utama Group, Paret Baru Sungai  Raya, tgl. 19 Desember  2009 membawakan tarian Ngajat temuai datai dan tari Dara.
62.  Menyambut Tamu dalam Acara kunjungan Panglima Polisi Militer dari Jakarta menarikan “  Ngajat Temuai Datai “ pada tanggal 21 Desember 2009 di Bandara Supadio.
63.  Mengisi acara Natal Sekadau di Auditorium Untan tgl. 6 Desember 2009 menghadirkan tari. Ngajat temuai datai, persembahan, sendratari kelahiran Yesus.
64.  Memimpin Sanggar pada acara Cap Go Me di Pontianak Kalimantan Barat, Mewakili Dewan Adat Dayak Kalimantan Barat, mengisi tari Bala Onya dayokng th. 2010
65.  Memimpin Sanggar pada acara Pertemuan Organisasi Balap Sepeda se Indonesia tgl 20 Mei 2010 di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat.
66.  Menggarap ulang tari Main Lalau  yang di Pentaskan pada acara penutupan Pesta Perak Pekan Gawai Dayak tgl 24 Mei 2010 di rumah Betang
67.  Penyambutan Kapolda Kalimantan Barat bulan 9 September 2010 di rumah adat Dayak  Pontianak. Menarikan “ Ajat Temuai Datai “
68.  Memimpin Pentas Tari dengan Judul: “Ajal” di Taman Budaya dalam rangka Gelar Karya Tari Unggulan Sanggar – Sanggar Tari di Kalimantan Barat, Oleh Dewan Kesenian Kalimantan Barat.
69.  Pentas dalam Rangka Ulang Tahun ke 30 tahun “ Yayasan Kristen Abdi Agape “, menampilakan. “ Sendratari “ 30 tahun Kiprah Yayasan Abdi Agape”di Kalimantan Barat.
70.  Sebagai Penari dalam Pertunjukan Tari Dgn Judul Bunyi dari Taman Budaya Kalbar, Dalam Pesta Seni Budaya dayak se- Kalimantan di Yogyakarta pd Tgl.22- 25 Oktober di Gedung UGM Yogyakarta.
71.  Pentas Tunggal dalam Rangka Pementasan Sanggar-Sanggar yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat. Menampilkan karya-karya Sanggar Sengalang Burong, diantaranya: Dua Dunia di Teater tertutup Taman Budaya Kalimantan Barat. Pada tanggal 31 Oktober 2010.
72.  Pentas Tunggal dalam rangka pementasan sanggar-sanggar dengan judul: Kilau Borneo yang diselenggarakan oleh Kreasi seni borneo dan sanggar sengalang burong pada tanggal. 27 November 2011 di Taman Budaya.
73.  Kordinator Team Tari Kalbar pada acara Pementasan Pameran Musium Internasional di Hotel Majestic River Site Serawak 24 – 27 Juni 2013.
74.  Kordinator Team Tari Kalbar pada acara Gelar Koreografi Lingkungan di Yogyakarta 31 – 3- 2013 di pantai Sundak.
75. Kordinator Tari Tajau dalam Team Kesenian Taman Budaya Kalbar di Serawak Culture Vilage  Malaysia. bulan 30 Mei - 02 Juni Tahun 2014


 PIAGAM PENGHARGAAN:

  1. Piagam Nomor: 431 / 25 / Disbudpar – B sebagai Penata Tari Terbaik I ( Tari Dayak ) se Kalimantan Barat. Tgl. 6 Desember 2003 dari: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat.

  1. Piagam No. 162 Tahun 2004, SK Gubernur Nomor: 377 Tahun 2004 sebagai Pemuda Pelopor di bidang Budaya dan Pariwisata. Tgl. 27 September 2004 dari Gubernur Kalimantan Barat.

  1. Piagam Penghargaan Nomor: 431,1 / 13 / Disbudpar – B sebagai Nara Sumber Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Tari Daerah. Dari Walikota Singkawang 17 Desember 2005.

  1. Piagam Penghargaan Nomor: 002.6 / 017 / 2006. Sebagai Nara Sumber Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Tari Daerah. Dari Walikota Singkawang 22 Desember 2006

  1. Piagam Penghargaan Nomor: 431 / UTB – C Sebagai Pemateri Seni Tari dalam Kegiatan Pelatihan Tenaga Teknis Seni Tari, Musik dan Teater dari Unit Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat. 26 September 2004

  1. Piagam Penghargaan Sebagai Penata Tari dalam Gelar Seni Tradisi dan Kreasi di selenggarakan Unit Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat. Dalam Garapan Tari Berjudul Democration Dream 2009

  1. Piagam Penghargaan pada tanggal;  7 Agustus 2010 sebagai Dewan Juri Tingkat Nasional di Jakarta dalam Rangka Pagelaran Tari Nusantara di TMII.

  1. Sertifikat dari Bengkel Suare Taman Budaya Kalbar, sebagai Pembina dalam kegiatan Operet Anak Khatulistiwa “ Dukamu, Dukaku, Bahagiaku untukmu” 17 Juli 2011 dalam rangka Memperingati Hari Anak Nasional.


Pengalaman dan Kegiatan Lainnya:

  1. Honor di Taman Budaya th. 2003 – 2005 surat keterangan no. 800 / 47 / UTB - TU
  2. Guru Honor di SMA YPK Pontianak Th. 2003 di bidang Kesenian
  3. Guru Honor di SMA Gembala Baik Jl. A.Yani th. 2003 Pontianak
  4. Guru Honor di SMA Negeri 1 Putussibau Th. 2006 Kapuas Hulu
  5. Aktif di Bidang Seni Tari Dewan Kesenian Kalimantan Barat berdasarkan SK Nomor: 03 / DK – KB/ 2004. Tgl 14 Mei 2003
  6. Pegawai Negeri Sipil di Bagian Umum Pemda Kapuas Hulu th. 2004
  7. Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebagai Staf Kebudayaan, di Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu 2005 – 2007.
  8. Pegawai Negeri Sipil di Unit Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat 2007 sampai sekarang.
  9. Sebagai Dosen di FKIP jurusan Seni Tari dan Musik 2008 sampai sekarang
  10. Dosen Honor bidang seni pada program perkuliahan D3 ke S1 oleh STKIP Melawi jurusan Seni 2009 di Pontianak.
  11.  Menjabat sebagai Direktur Seni Pertunjukan Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat th 2008 – 2011
  12. Nara Sumber dalam bimbingan Teknis Tari di Kabupaten Sanggau 2014


Pengalaman Menjadi Juri:

  1. Pengamat Tari Kreasi Dayak pada Gawai Dayak Tahun 2008 di Pontianak
  2. Pengamat Tari Kreasi pada acara FBBL tahun 2009
  3. Pengamat Lomba Lagu Daerah pada acara FBBL Tahun 2009
  4. Pengamat dan team penguji di bidang Budaya dan Pariwisata pada Acara Pemilihan Bujang dan Dara di Event FBBL tahun 2009
  5. Pengamat Tari Kreasi Daerah dalam acara Festival tari Kreasi Tingkat SMK nse Kalbar di Taman Budaya Pontianak 2010
  6. Pengamat Tari dalam FBBK di Gedung PCC Pontianak Tahun 2010
  7. Pengamat Tari Kreasi pada acara Festival Borneo di Pontianak 2010
  8. Pengamat tari dalam Parade Tari Nusantara se Indonesia di Jakarta TMII Agustus 2010
  9. Pengamat Tari, Pop Singer, Bujang Tarigas man Dara Edo’ pada Festival Bumi Budaya Landak tgl. 10 – 12 Oktober 2010. Di Ngabang Kabupaten Landak.
  10. Juri LS2OSN di Hotel Merpati Pontianak, Tari Tingkat SMP Sekalbar, meloloskan Tari Nyi Anta Kabupaten Sekadau, sebagai Terbaik 1 tingkat Kalbar, selanjutnya menjadi Terbaik Dunia  di India tahun 2013.




Jumat, 12 Juli 2013


Pementasan Sanggar Sengalang Burong di Hotel River Majestic Kuching
P. Edi barau dengan P. Willy DAD Sekadau
Tari Pingan Mualang Laki dari daerah Belitang Hulu, kab. Sekadau, Kalbar.

Jumat, 16 November 2012

FENOMENA TARI DAYAK Gerak tari yang cukup berkembang di miliki oleh kelompok Ibanic ( Dayak Mualang ), di antaranya Tari Pinggan Induk dan laki, Tari Pedang Mualang, Tari Ajat / Nyambut Temuai Datai, Ayun Pala’ dll. Sedangkan perkembangan Motif gerak tari Mualang, di awali oleh Gerakan yang terdapat pada Upacara Adat “Ajat / Nyambut / Temuai Datai”. Beberapa gerakan yang dikembangkan oleh John Roberto P, melalui pengembangan aksi, usaha, ruang tenaga dan tata hubungan sesuai dengan pengembangan akademisi yang dianjurkan oleh Rudolf van laban, (ahli tari / notasi tari ) dalam hal ini tetap berorientasi pada gerak Tradisi Mualang yang terdapat dalam Upacara Ajat Temuai Datai, pada prosesi Gerak Ngiring Temuai. Adapun Motif gerak yang lahir dari gerak tradisi Ngiring Temuai tersebut, diantaranya: Gerak Melempai, Gerak Ngancau Tikay, Gerak Burung Kenyalang, Gerak Kesulang, Gerak Burung Ruai, Pencak rindas, Jalai Kenyalang dll. Kekayaan Gerak dan ciri tari Dayak, merupakan aset yang sangat berharga untuk pijakan dasar pengembangan tari Dayak umumnya. Tidak banyak para seniman / pelaku seni yang mau mencari dan belajar akan ciri gerak tradisinya masing-masing. Hal ini di sebabkan para pelaku seni tersebut kurang referensi dan observasi lapangan untuk mengamati, mempelajari serta menguasai gerak dasar tari tradisi Dayak. Pada Dasarnya Bangsa Dayak dengan ratusan sub suku, mempunyai ciri gerak masing-masing, yang memperkaya citra eksistensi Tari Dayak Umumnya. Tari Dayak bukanlah hal yang seragam dan miskin akan gerak, melainkan sebaliknya. Jika di pelajari lebih dalam maka kekayaan gerak tari Dayak akan mendasari proses pembuatan karya tari yang profesional, jika ada perhatian yang serius. Dampak dari ketidaktahuan pelaku seni terhadap kesenian / tari yang di kembangkannya, membawa tari dari suatu daerah tertentu menjadi tercerabut dari kekayaan tradisinya. Hal ini menyebabkan generasi muda dan regenerasi selanjutnya dapat tergradasi budaya hingga menyebabkan pudarnya bahkan hilangnya suatu identitas dan hilangnya kekayaan yang di miliki oleh daerah tersebut. Kebanyakan Penata Tari merasa eksistensi dan terlena dengan kreativitas – kreativitas Tari Kreasi dari luar Kalimantan, dan merangsang mereka untuk meniru proses pembuatan tari tersebut, kemudian menjadikan gerak tari Dayak sebagai objek yang menarik dan laku untuk di eksplorsi dan eksploitasi dan di pertunjukan. Di samping itu objek yang di angkat dan di kembangkan tersebut tidak di kuasai oleh penata tari, apalagi penata tari tersebut hanya mengenal komersialisasi tanpa merasa terbebani dengan pelestarian seni budaya daerah yang di angkat dari tradisi setempat. Walaupun kadangkala karya yang dibawakan tersebut indah secara visual dan dapat diacungkan jempol, tetapi berdampak pada kesenian / tari Dayak tersebut di masa mendatang. ( tercerabut dari akar budaya ) yang sangat disayangkan kadang kala seorang penata tari, tidak mengetahui asal dan sejarah gerak tari yang ia kembangkan. Eksistensi semacam itu, tidak akan bertahan lama, sebab pondasi dari karya tersebut tidaklah mengakar dari tradisi setempat, melainkan lebih mengekspos kepada bentuk visual semata, tidak mempunyai jiwa. Sedangkan nilai dan orisinilitas yang menjadi pijakan dasar, tidak lah kuat. Contoh, ketika kita membuat sebuah tarian di Kabupaten Landak, orientasi dasar penciptaan Tari maupun musik, haruslah berdasarkan gerak dan musik asli, yang kemudian menjadi pijakan dasar untuk pengembangan tari tersebut, agar pondasi yang dibangun dan karya yang dibuat mempunyai kekuatan dan kebanggaan sepenuhnya dari kabupaten tersebut. Karena kelompok Kanayatn, mempunyai ciri gerak tabuhan musik yang spesifik, Demikian pula jika kita membuat tari ataupun karya seni dari Kabupaten Sekadau, yang nota bene di huni oleh kelompok besar Ibanic Group, di samping kelompok kecil lainnya. Ciri spesifik harus merupakan bentuk objek yang menjadi akar / roh pengembangan tari Dayak daerah tersebut. Demikian juga, Melawi, Sintang dan Kapuas Hulu, haruslah penata tari memahami gerak atau dasar tradisi setempat yang menjadi pijakan untuk menghasilkan karyanya. Hal –Hal semacam ini merupakan kebanggaan dan menjadi ciri yang specific suatu daerah. Apalagi jika dapat esis di berbagai festival dengan kemampuannya, tradisinya tentunya akan memac perkembangan dalam menumbuhkan persaingan yang positif khususnya seni Tari. Pembohongan publik melalui Eksistensi yang tidak mengakar kepada tradisi sebaiknya segera di hentikan, untuk kembali menyelami tradisi masyarakat setempat, dan menempatkannya sebagai dasar pijakan yang kuat. ( Basic to natural : kembali ke asal ) agar gernerasi selanjutnya merasa bangga akan daerahnya masing-masing. Demikian juga dari fihak pemerintah sebaiknya peduli dan selektif melalui dialog dengan mendatangkan pelaku seni baik secara akademisi maupun otodidak untuk duduk bersama dalam pengembangan tari Dayak dari suatu daerah. Pemerinta patut menjadi mitra yang aktif melalui Instansi atau dinas terkait untuk membina, mendatangkan akademisi baik akademisi asal daerah tersebut maupun akademisi pembanding di bidang seni tari. Kemudian dalam mengirimkan duta kesenian ke luar daerah perlu di pertanyakan sebelumnya, apa yang kesenian yang akan di bawakan ? Tradisi mana yang di bawakan, gerakan apa yang di kembangkan, musik tradisi apa saja yang di angkat ?, benar kah demikian yang mencerminkan kabupaten setempat ?. kebanggaan bukan terletak pada kemenangan semata yang membutakan mata dalam mencari eksistensi, melainkan pada jati diri yang dapat eksis. Syaloom. Trimakasih. John Roberto Panurian Keluarga Seniman Dayak Kalimantan Barat, Alumni Institut Of Art Indonesia Yogyakarta. e-mail. Johnrobertor4( at ) gmail.com Pembina Sanggar Sengalang Burong Kabupaten Sekadau di Pontianak Kalimantan Barat Director Seni Pertunjukan Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat. Dosen Prodi Seni FKIP UNTAN Peningkatan Mutu Unit Taman Budaya Kalimantan Barat
PELATIHAN TARI DAYAK SANGGAR SENGALANG BURONG KALIMANTAN BARAT 2012 rumah adat Dayak Kalimantan Barat JADWAL LATIHAN UMUM ANGGOTA SANGGAR PEMULA SAMPAI DENGAN 3 (TIGA) BULAN PROSES LATIHAN ): No Waktu / Hari Tempat Keterangan 1 Selasa : 18.30 wib Betang / Atas Olah Tubuh 2 Kamis : 18.30 wib Betang / Atas Teknik Tari 3 Sabtu : 18.30 wib Betang / Atas Ragam / Motif Tari Dayak JADWAL LATIHAN UMUM ANGGOTA SANGGAR LANJUTAN 3 (TIGA) BULAN PROSES LATIHAN SAMPAI DENGAN 6 ( ENAM ) BULAN : No Waktu / Hari Tempat Keterangan 1 Selasa : 18.30 wib Betang / Atas Olah Tubuh 2 Kamis : 18.30 wib Betang / Atas Tari Pingan 1 ( tradisional) 3 Sabtu : 18.30 wib Betang / Atas Koreografi 1 ( tunggal ) JADWAL LATIHAN UMUM ANGGOTA SANGGAR LANJUTAN 6 ( ENAM ) BULAN KE ATAS : No Waktu / Hari Tempat Keterangan 1 Selasa : 18.30 wib Betang / Atas Tari Jentay 1 2 Kamis : 18.30 wib Betang / Atas Koreografi 2 ( Duet ) Musik Iringan Tari 3 Sabtu : 18.30 wib Betang / Atas Olah Rasa PEMENTASAN MENGETAHUI JOHN ROBERTO P,S.Sn SANGGAR SENGALANG BURONG KALIMANTAN BARAT

Selasa, 09 Oktober 2012

Doa Penyambutan Tamu / Ajat Temuai Datai

BUAH BEKIBAU ( DOA TRADISIONAL ) NGAU AJAT TEMUAI DATAI ( PERSEMBAHAN DALAM PENYAMBUTAN TAMU ) Sa, dua, tiga, mpat, lima’, nam, tujoh. Tujoh ke matari tumoh, tumoh tuah, tumoh limpah, tumoh untong, tumoh nyarong, tumoh aday, tumoh ada, tumoh kih, tumoh kaya, tumoh agung, tumoh tulong pengawa, tumoh pengiran ganti raja. Tu’ mah kami ngibau, kami ngitau, kami nipah, kami miah, kami ngibas kami ngias. Mali aday ti ka’ ngaru, kak ngricau, kak ngetil, kak nyamil. Ti kak ngempang, kak ngalang, kak nyempal kak ngaral,…. Kami tu Beajat Temuai Datai ari menua jauh, ari menua bukai ti datai ke menua borneo tanah Dayak tu’, nema aday utai ti de kereja di tu’, abak penatai sidak nadai ngaru da menua tu’. Keba’ kami suruh berkat, kami suruh selamat, isak nadai sipat rangau punai de tinggang kayu besai, tacah isau simpai, tacah senapang abak utai ti nyuruh pedeh nema tujuan sidak tu nadai jaei. Asa tuju sidak limping lilai kak ngaru da menua to’ abak asa aday ti kak ngaru, kak ngricau da menua borneo tanah Dayak, teka kitapkah ngau sayap, kisai kah ngau langai, terapa’ kah ngau sua’, renyokkah ngau patok, matikah ngau taji, suroh ayas kealam babas, suroh temu’ kea lam rampu’, suroh alit kealam bukit, suroh lenyau kealam debau, suroh lela’ kea lam rimba’, suroh pulai kea lam natai. Amat mah Nuan to’ mit ari pipit, panak ari kejirak, besai ari punai, na’ gemu’ ari mpulo’, na’ tingi’ ari beruwi’, uleh bukai nuan beruwi’ sekayu balik pulai ngambik tanah tumbuh. Bukai Kenyalang sebuah lembang pulai ngundang kampong jauh, bukai tajak sebuah lebak pulai nyilak kiara’ muduh; bukai kuku’ sebuah munggu’ pulai nguyuk buah ruruh; nuan betelok pulah ngkeran, beranak pula ngkerungan, tinok pulah penepan, nama lama’ penupi’ nek andan, pengidup kinta kenian uleh nuan nyau butang, ngkukuk tengah malam, butang ngeraih jalai pian, butang birak tengah laman, butang mantok dalam capan, nuan to’ pureh ngau bekitau, tutus ngau bekibau, pureh ngau menselan, tutus ngau nemungan, pureh ngau bebiah, tutus ngau betipah, keba’ to’ nuan kami bunoh. MANOK / AYAM, HARUS AYAM JAGO, KEMUDIAN DI KIBAU DI DEPAN TAMU. ( setelah selesai ngIbau Manok, kemudian Manok tersebut di bunuh/ sembelih )