Dayak Community

Dayak Community

Tabe' Art and Culture

BETUNGKAT KA ADAT BASA, BEPEGAI KA PENGATUR PEKARA

AGIK IDUP. AGEK NGELABAN

TABE' Ngau Bala Pengabang Da Ruai Kami

SANGGAR SENGALANG BURONG




Rabu, 28 April 2021

Dayak Iban Desa Kalimantan Barat

 

SEBUAH CATATAN

DAYAK IBAN DESA SINTANG

Sumber :

VERHANDELINGEN

VAN HET KONINKLIJK INSTITUUT VOOR

TAAL-, LANDI- EN VOLKENKUNDE

DEEL X VII

KANA SERA

ZANG DER ZWANGERSCHAP

door

P. DONATUS DUNSELMAN O.F.M CAP.

'S·GRAVENHAGE . MARTINUS NIJHOFF • 1955

 


          Kelompok yang kini disebut Dayak Desa Sintang yang juga tersebar di wilayah kabupaten Sekadau berasal dari Tampun Remun /Tampun Juah sebagai tempat yang pernah mereka tinggali. Jika menurut Mitos leluhur mereka yaitu: Abang Panjang, yang dipercaya berasal dari keturunan manusia khayangan, ayahnya bernama Remambang Bulan.  Abang Panjang diusir ayahnya dari langit ke bumi karena kawin mali (incest) ke bumi, dan pergi ke Tembawang Tampun daerah Hulu Remun antara sungai Saih dan Hulu Sekayam

          Seorang keturunan Abang Panjang bernama Igar mengembara sampai ke sungai Desa anak sungai Redjang (Sarawak). Dayak Desa menyebut kelompoknya berdasarkan nama sungai tersebut. Dari sungai Desa pindah lagi ke Semitau Lempah dari Semitau Lempah mereka menuju sungai Ketungau dan menuju ke sungai Kapuas di muara sungai Melawi.

Catatan:

 Cuplikan sejarah Dayak Desa menurut versi Donatus Dunselman 1955 seperti yang tertulis dengan versi aslinya menggunakan bahasa Belanda, mirip legenda atau mitos dari sumber yang sama, pada Dayak Mualang di Tanah Tabo’ (Belitang Hulu), adapun persamaan yang mirip yaitu: tentang legenda / mitos manusia yang kini menghuni  Tanah Tabo’ yang di dalamnya memuat kisah tetang Bujang Panjang (versi Mualang) mirip dengan legenda atau mitos Dayak Desa yaitu Abang Panjang.

Kemudian Bujang Panjang telah berbuat kesalahan di khayangan karena kawin mali (incest) dengan anak Petara Seniba yaitu: Dayang Kaman Dara Remia. 

Mencermati versi Dayak Desa  bahwa : Abang Panjang melakukan kawin mali (incest) di khayangan dan selanjutnya dia diusir ayahnya bernama: Lemambang Bulan ( versi Dayak Desa)  

sedangkan versi Dayak Mualang,  Ayah Bujang Panjang adalah Keseka’ Busong yang menikah dengan Dara Jantung anak Petara Seniba (di khayangan).  Bujang Panjang  telah melakukan hubungan mali (terlarang) dengan Dayang Kaman Dara Remia  adik Dara Jantung / ibu dari Bujang Panjang, Anak Petara Seniba dan diusir oleh kakeknya dari khayangan ke bumi.

Versi Dayak Desa, bahwa Abang Panjang  melakukan kawin mali di khayangan ( tidak disebutkan nama istrinya) dan diusir dari khayangan ke bumi.  Selanjutnya Abang Panjang memiliki keturunan bernama Igar, yang  mengembara sampai ke Batang Desa anak sungai Batang Redjang (di Sarawak) selanjutnya Batang Desa di abadikan untuk menyebut keturunannya sebagai kelompok Dayak Desa. (tersebar di sintang dan sekitarnya) Adapun pengembaraan dari Batang Desa (anak Batang Redjang) keturunan Igar menuju Semitau Lempah kemudian menuju sungai Ketungau dan  tembus ke sungai Kapuas menuju Senentang atau muara  sungai Melawi kemudian menyebar dan bercampur dengan Dayak di tempat tersebut. (baca: Donatus Dunseman 1955.p.6)

Kesimpulannya:

          Jika merujuk legenda Dayak Mualang Tanah Tabo’ dan menyusuri Legenda asal sejarah nama Dayak Desa, ada kemiriban versi keduanya.

Orang Tanah Tabo’ diperkirakan adalah migrasi Iban dari Tampun Juah menuju Batang Ketungau selanjutnya menuju Tanah Tabo’ (Belitang Hulu) dari Belitang Hulu menuju ke Sepauk dan ke muara sungai Kapuas dan Melawi tidaklah jauh.  Diperkirakan bahwa kelompok yang kemudian disebut Dayak Desa adalah kelompok yang sama dengan Dayak Mualang dari Tanah Tabo’ (Belitang Hulu). Dari Belitang Hulu keturunan Abang Panjang (Igar) menuju ke arah sepauk dan ke Muara Sungai Kapuas Melawi (Senetang) selanjutnya menyebar ke Sintang dan sekitarnya.

Baca : Orang Tanah Tabo’ : https://mualangmiga.wordpress.com/2010/05/21/sejarah-mualang/

Tulisan Sumber dari bahasa Belanda:

( Een afstammeling van Abang Pandjang, genaamd Igar, vertrok, volgens deze mythe van Tampun Remun naar de S.Desa, een zijrivier,  van de S. Redjang, vanwaar dan de Desa-Dajaks hun naam afleiden. Na 5 jaar gaan zij terug naar Tampun en verhuizen vandaar naar, Semitau Lempah. Tenslotte zakken ze vandaar de Saih af en komen, langs de Ketungau en de Kapuas aan de monding van de Melawi 9).In de memorie van overgave van Contr. M. A. Bouman van Nov.1922 staat: "Abang Pandjang vertrok, daar de vestiging aan de boven Sekajam te vol werd, naar de plaats van het tegenwoordige Smitau, waar hij met de Dajaksche vrouw Melamon huwde" 10). ( Kana Sera, Donatus Dun Selman 1955.p.6)

( di rangkum oleh: John Roberto P)