Dayak Community

Dayak Community

Tabe' Art and Culture

BETUNGKAT KA ADAT BASA, BEPEGAI KA PENGATUR PEKARA

AGIK IDUP. AGEK NGELABAN

TABE' Ngau Bala Pengabang Da Ruai Kami

SANGGAR SENGALANG BURONG




Kamis, 03 Desember 2020

MITOS PENCIPTAAN MANUSIA VERSI DAYAK IBAN MUALANG


SEKELUMIT 

MITOS PENCIPTAAN DUNIA

VERSI  MUALANG

MITOS PENCIPTAAN DUNIA 

MENURUT DAYAK MUALANG (IBANIK)

 

Dunia ini di masa lalunya semua nya kosong (puang) dan tak ada kehidupan apapun,  tak lama kemudian muncul hembusan angin bertiup kencang seperti cahaya melayang-layang di langit kemudian muncul Roh. Roh tersebut bercahaya selanjutnya di sebut: Petara Raja (Tuhan / penguasa tertinggi dari Tuhan / Petara lainnya). Petara menciptakan dan menguasai alam (Buan 1997). Kemudian Petara Raja memancarkan cahaya memecah menjadi Tujuh Semengat (semengat = Roh), di sebut; Petara yang tinggal di tiap lapisan langit tujuh tingkatan, masing-masing Petara tersebut mengendalikan tiap-tiap lapisan langit tempat mereka tinggal termasuk menciptakan kehidupan baru khayangan (orang buah kana). Selanjutnya Petara Raja membuat sebuah Menua (bumi/daratan) di langit pertama, sebab melihat langit pertama kosong tidak ada mahluk apapun dan perlu ada kehidupan. Para Petara setuju, mereka sepakat yang pertama dibuat di langit pertama adalah: Menua (bumi / daratan) tempat nantinya Petara berkunjung, maka di jadikanlah Menua (bumi / daratan). Kemudian Petara Raja menciptakan angin yang berputar dan meniup Menua (bumi/daratan). Setelah menciptakan bumi dan ada angin, Petara Raja memanggil ke Tujuh Petara lainnya, untuk melihat ciptaannya. Ketika Tujuh Petara Langit menjenguk dari langit melihat ke bumi, munculah kekuatan cahaya terang, cahaya kilat dan petir ke bumi, demikian pula angin yang berputar begitu kuat meniup dan mengikis daratan bumi dan membentuk lubang-lubang tanah yang tak merata, seperti cekungan-cekungan, membentuk danau, sungai, dan laut yang kering, membentuk tanah tumbuh (seperti sarang semut), membentuk bukit dan gunung-gunung, membentuk bongkahan batu-batu yang tak teratur dan membentuk serpihan-serpihan tanah, demikian pula kekuatan cahaya disertai angin (kude’) menyebabkan batu dibumi terlempar jauh ke angkasa membentuk gumpalan seperti bumi di seluruh angkasa, membuat semua daratan di bumi mulai berubah. Melihat hal itu Petara Raja segera memisahkan kekuatan cahaya dari  Tujuh Petara tersebut, ke atas langit dan menyatukan kekuatan cahaya Petara menjadi satu membentuk bola mata yang bersinar terang. Bola mata itu selanjutnya di sebut; Mataari (Matahari) digelar “Tujuh Mataari Tumuh”, bermakna timbulnya kehidupan baru. Selanjutnya Petara Raja menciptakan gelembung besar menyelubungi bumi dan bumi dibuat berputar agar cahaya yang terpancar dari mataari (matahari) merata mengenai bumi. Gelembung cahaya yang menyelubungi bumi dimaksud juga untuk menjaga  agar udara dibumi tidak dapat keluar ke angkasa dan bebatuan yang berserakan di angkasa tidak menabrak bumi demikian pula Petara Raja membuat sebuah tangga cahaya, melengkung seperti lengkung separuh lingkar bumi serta memiliki beberapa warna berfungsi sebagai tangga penghubung langit dan bumi.

Selanjutnya Petara Raja menciptakan tumbuhan di darat dan yang merayap; rajang, sulur (semak belukar), pohon dan tumbuhan lainnya, kemudian menciptakan air ke daratan bumi, memisahkan air dan darat (danau, sungai dan lautan). Setelah semuanya teratur Petara Raja melihat bumi berputar dan matahari bersinar terang timbul siang dan malam,  ada tumbuhan, ada air, ada danau, sungai, lautan, ada bukit, lembah, gunung, ia melihat bumi semakin indah, tetapi dirasa masih ada yang kurang maka Petara Raja selanjutnya menciptakan : sepasang binatang di air; buaya, ikan, dan lainnya, menciptakan sepasang binatang yang hidup di darat; ular, anjing, monyet, dan lain-lain, di dalam tanah, di pohon dan sebagainya, hidup dan menyebar ke seluruh bumi. Suatu ketika saat para Petara melihat kehidupan dibumi mereka senang melihat kehidupan itu, namun belum menemukan mahluk serupa dengan mereka. Di khayangan para petara telah menciptakan kehidupan orang pangau / dewa dewi (Buah Kana) serupa bentuk petara, mempunyai tubuh tinggi-tinggi dan besar. Oleh sebab itu Petara Raja berencana menciptakan manusia, namun ia akan memeriksa seluruh daratan yang cocok untuk manusia dibumi. kemudian Petara Raja menciptakan dan memerintahkan sepasang burung (dua ekor burung jantan dan betina), mengembara mengelilingi bumi melihat daratan  yang cocok untuk manusia.

Di suatu ketika Petara Raja  mengamati jenis pohon untuk menciptakan manusia, pertama-tama ia mengambil pohon pisang untuk membuat manusia namun setelah ia amati dan menilai jika dari pohon pisang maka manusia itu lemah. Kemudian  ia mengganti pohon pisang itu dengan kayu kumpang yang bergetah merah seperti darah, setelah di nilainya bentuk ini pun masih belum baik dan jika manusia tersebut hidup, matanya melotot seperti marah dan masih tak bersuara. Ia menilai ini juga kurang baik bisa membuat Urang Pangau (dewa-dewi dalam buah kana) marah dan melawan manusia. Akhirnya Petara Raja, memanggil dan memerintahkan Ine’ Andan untuk menempa manusia (menempa / membentuk) menggunakan tanah lempong bumi namun belum sempurna, selanjutnya Petara Raja mengambil bentuk dirinya dan menyempurnakan manusia agar semua yang diciptakannya selain manusia (binatang dan tumbuhan) dikuasai oleh manusia demikian pula nantinya para Petara dan orang-orang Pangau  (buah kana) datang membantu dan mengajarkan manusia tentang adat-istiadat di langit.[1] Kemudian setelah Ia menciptakan dan menyempurnakan manusia, Ia memberikan Semengat (Roh) kehidupan maka saat itu manusia bisa hidup dan bernapas (menyuan), bergerak dan bersuara kemudian memberikan pengetahuan cara bertahan hidup di menua / bumi. Setelah manusia bisa hidup dan berbicara, tak lama kemudian dua ekor burung yang diperintahkan mengembara datang memberi kabar kepada Petara Raja bahwa pohon, air dan daratan di bumi sangat luas,  jika tidak ada kehidupan lain selain binatang, maka belum cukup. Mendengar hal tersebut maka Petara Raja menyuruh sepasang burung itu berkembang biak dan hidup bersama binatang lainnya, sebelumnya ketika sepasang burung tersebut melihat manusia mereka bertanya kepada Petara Raja bahwa manusia itu tidak terbang dan bertelur seperti kami dan kenapa hanya seorang, Petara Raja mengatakan bahwa burung diciptakannya sepasang agar nantinya berkembang dan hidupnya terbang dan tinggal di bumi bersama manusia. Saat yang sama pula manusia berkata bahwa jika dirinya hanya sendiri masih merasa kesepian. Selanjutnya Petara Raja menciptakan manusia lainnya sebagai teman dari manusia yang pertama, Petara Raja  menjadikan mereka pasangan laki-laki dan perempuan, selanjut nya ia beri nama:  Bintang Muga (laki-laki)  dan Rui Mana (Perempuan).

Bintang Muga dan Rui Mana menurunkan manusia  kemudian mengembara (bejalai) menyebar di daratan bumi. Di masa lalu para Petara dari khayangan sering datang megunjungi manusia ke bumi, bahkan seringkali terpesona melihat kecantikan dan keperkasaan manusia di bumi, bahkan ada kawin dengan manusia, menurunkan manusia-manusia gagah perkasa, kuat dan besar-besar Gergasi (raksasa) keturunan ini mengembara ke seluruh daratan di bumi. Diantara keturunan raksasa (gergasi) umumnya tidak memiliki sifat yang baik dan mempengaruhi manusia untuk berbuat kejahatan, keturunan para raksasa (gergasi) selanjutnya musnah ketika daratan di jatuhkan banjir besar karena murka Petara Raja.[2] Di antara keturunan Bintang Muga (laki-laki) dan Rui Mana (Perempuan), lainnya ada pasangan yang merupakan tokoh spiritual  dikenal sebagai: Ambun Menurun dan Pukat Mengawang. Kedua tokoh ini  ibarat embun yang turun dari langit simbol sperma / embrio kehidupan dari laki-laki dan ibarat sela-sela pukat / jaring yang ditembusi embun /pembuahan biologis dari perempuan. Adapun anak-anak Ambun Menurun dan Pukat Mengawang terdiri dari 7 (tujuh) anak bahkan lebih (menurut masing-masing versi ibanik) dan hidupnya mengembara dan menurunkan manusia-manusia pengembara, mereka menyusuri bumi, melewati berbagai kondisi alam menyebabkan timbulnya berbagai perubahan warna kulit (hitam, coklat, merah, kuning langsat, dll). Demikian pula mereka juga mengkonsumsi makanan alami sesuai keadaan / kondisi saat itu (berburu dan meramu) menyebabkan fostur tubuh mereka berubah umumnya kuat dan besar menyesuaikan kondisi alam saat itu, mereka mengembara ke berbagai tempat di menua / daratan, pulau-pulau, goa-goa, mengembara di bukit-bukit. Adapun beberapa tempat diantaranya; Gua Niah (niah caves) 35.000 SM, di borneo utara / utara pulau kalimantan (Sellato, 1989:53) dari tempat ini selanjutnya mengembara ke berbagai tempat di borneo / kalimantan dan kearah timur menyusuri perbukitan, demikian pula diantaranya menyusuri Bukit Ayau, Bukit Kujau, Air Berurung, Balai Bidai, Tinting Lalang Kuning, Selanjutnya di tuturkan bahwa keturunan Ambun Menurun dan Pukat Mengawang telah sampai ke Tampun Juah,...........................................................................................................................................

Ini adalah sekelumit  ringkasan tentang:

Mitos dan Penciptaan Dunia  dan silsilah terjadinya manusia versi Dayak Mualang (Ibanik) 

Catatan lengkapnya dapat dibuka di Gogle Drive link tersebut dibawah ini.


Link tulisan dapat dibuka di: 
https://drive.google.com/file/d/1kYH0GOBK8qPaGn1VJoXUfediI6NI4T_p/view?usp=sharing


[1] Lihat: L. Tatang. Sekilas Perkawinan  Dayak Mualang “ Adat Perkawinan” . Institut Dayakologi Institut Dayakologi, 1999.p.10

[2] Banjir besar yang dijatuhkan ke bumi, menenggelamkan para manusia-manusia jahat, para raksasa (gergasi) dan hanya meninggalkan bekas-bekas  besar pada tanah yang selanjutnya membatu diberbagai tempat.

 




Kamis, 12 November 2020

SITUS BATU TAGEK DAYAK MUALANG ( IBANIC ) KALIMANTAN BARAT

 

BATU TAGEK  MERTAWAI

( Legenda Menua  Iban Mualang  Kalbar)

Oleh; John RP

 





            Merupakan satu diantara  tempat keramat di dusun Mertawai, Kecamatan Belitang Hulu Kabupaten Sekadau. dilihat dari struktur, susunan dan bahan,  batu tersebut diperkirakan usianya nya sudah mencapai  beberapa abad lampau, mirip Situs Batu Karang di Sei Bungkang, Desa Mawang Muda, Kecamatan Beduai wilayah suku Dayak Golik. Namun juga ada perbedaan bentuk dan perlu penelitian lebih lanjut.  Kisah Situs ini di sebut Batu Tagek  dimasa lalunya dipercaya  sebagai bagian dari sejarah/legenda  leluhur Dayak Iban Mualang dan di tempat ini pula pernah sebagai  tempat pertahanan ketika akan mengayau  para bujang berani orang - orang Mualang sewaktu mengintai musuh-musuh dimasa selanjutnya. merujuk ke masa lampau Batu Tagek  yang tersusun dan bertumpuk tersebut pula merupakan tempat tinggal atau pernah bersentuhan dengan kehidupan para leluhur orang Mualang dimasa purba. Jika merujuk kepada kisah legenda Tanah Tabo" (saat ini Belitang Hulu) kawasan Batu Tagek merupakan bagian dari wilayah Tanah Tabo" dan  Tanah Tabo" pernah terjadi peristiwa bersejarah  yakni pernikahan Bujang Panjang leluhur orang Tanah Tabo" dengan Dara Jantung anak Petara Seniba dilangit. karena keduanya berstatus pernikahan mali atau terlarang maka keduanya diusir ke bumi oleh Petara Seniba ke Tanah Tabo".  

            Di Tanah Tabo' peradaban dan tempat - tempat kehidupan, pemukiman, pemujaan atau peristiwa alam lainnya maupun peristiwa budaya, terbentuk dan diperkirakan satu diantanya yaitu: Situs Batu Tagek adalah sejarah yang ada hubungan juga dengan legenda Tanah Tabo". Selanjutnya  sejalan perkembangan masuknya agama  Kristen Protestan  ke dusun Mertawai maka tempat itu tidak lagi dijadikan sebagai tempat pemujaan ataupun upacara adat terkait ritual lama,  hal ini  telah ditinggalkan, sebagian besar masyarakat wilayah tersebut, namun situs tersebut merupakan satu di antara jejak yang berhubungan dengan peradaban Dayak Mualang yang masih tersimpan dan memiliki daya tarik Sejarah, Budaya, dan diharapkan  di lestarikan sebagai bagian warisan sejarah di masa lampau di tengah belantara Dusun Mertawai, Kecamatan Belitang Hulu Kabupaten Sekadau.

            Nama  Batu Tagek sendiri muncul  diakibatkan adanya suatu peristiwa dimasa Pengayauan dari musuh orang-orang Mualang di masa lalu yang datang akan menyerang ke Dusun Mertawai, musuh tersebut yaitu: Sidak Bui (diperkirakan suku ini yang telah punah atau bermetamorfosis / melebur dengan Dayak Mualang dimasa perkembangan selanjutnya).  Di kisahkan bermula dari seorang leluhur Orang Mualang  atau Bujang Berani yang bernama Tagek terbunuh di tempat itu, hal ini dikarenakan beliau mengalami kempunan (ketika ditawarkan makan terlebih dahulu namun makanan tersebut ternyata tidak ada), dimasa lalu istilah kempunan ini adalah pantang dilanggar dalam tradisi orang Mualang dipercaya dapat menyebabkan, celaka / bencana  atau mala petaka, dan benar juga  di Saat Tagek pergi menghadang musuh  yang masuk ke wilayah Mertawai, di Situs Tersebut, Tagek tewas diantara bagian (blok) Situs tersebut, namun beliau berhasil menghalangi musuh yang menyerang ke Mertawai.  Jenazah Tagek disusul oleh para Bujang Berani dari Mertawai dan di bawa pulang, sedangkan guna mengenang peristiwa itu,  Situs bebatuan yang tersusun  itu di sebut Batu Tagek, karena di Situs bebatuan tersebutlah  Jenazah Tagek di ambil kembali.

Sejalan perkembangannya, Batu Tagek sering dikaitkan dengan hal mistik, dan aura gaib di sekitarnya yang  sering terkoneksi secara batin maupun tampak sewaktu-waktu dilihat secara visual maupun di dengar oleh para pemburu dan warga lainnya dari mertawai, yang melalui tempat itu, di ceritakan di tempat itu orang  sering melihat cahaya terbang di malam hari, kadang kala sering terdengar suara asing dan sesuatu yang ganjil tentunya tak semua orang berani ke wilayah Situs Batu Tagek.  Sejalan perkembangannya saat ini pula, Batu Tagek masih dipercaya memiliki sesuatu keganjilan atau aura gaib, namun juga sering dikunjungi  ramai-ramai di siang hari sebagai tempat berfoto maupun tamasya bagi kaum muda yang hobi selfi di tempat bersejarah.  Diharapkan Situs Batu Tagek tetap terjaga kelestariannya sebagai bagian dari warisan budaya, dan perlu penyadaran bagi penduduk sekitarnya agar tetap menjaga Situs tersebut sebagai bagian dari peradaban leluhur Orang Mualang, sebagai bagian dari kekayaan Warisan Budaya yang dilindungi. sesuai UU No.5 Tahun 2017. (Sumber: Pak Seni, 50 th. Dusun Mertawai)










Catatan:
Legenda Tanah Tabo, merupakan  alur dari Migrasi Iban dari Tampun Juah, menuju sungai Ketungau dan  dari Sungai Ketungau sebagian menuju Tanah Tabo' bergabung dengan keturunan Keseka' Busung  dan keturunan Petara Seniba. (Leluhur Iban Mualang) sebelum bergabung dengan keturunan Bejit Manai yang datang selanjutnya dari Sungai Mualang.







Jumat, 25 September 2020

CERITA MENGAYAU VERSI IBAN MUALANG ( TUA' BADAK DAN TUA' BUNTAK )

  

TUA’  BADAK, NGAU TUA’  BUNTAK

Panglima Perang Tua’ Badak dan Tua’ Buntak

Versi  Bahasa Indonesia )

 

 



             

Hilang Kisah Timbol Cerita, Tangkap Kerama’ Jual ke Cina, Bula’ Aku, Bulak Urang Tuai.

Nyurok Nyemah Ku Nusoi Ka bala Kita’

Kisah Urang Kelia’,

Mali Mulut Salah Jako’, Jari Salah Jamah, Minta Maaf Ka Kitak.



Dayak Mualang adalah satu diantara kelompok Dayak Iban atau yang disebut sebagai Ibanic yang dimasa lalunya mengamalkan tradisi mengayau. berdasarkan cerita orang tua dimasa lalu, ada dua orang panglima perang yang terkenal di zamannya bernama Tua’ Badak dan Tua’ Buntak. (Tua’ dalam Bahasa kelompok Iban adalah gelar seorang Panglima Perang)

Satu diantara wilayah yang pernah mengukir sejarah mengayau adalah lubuk entulang, tak jauh dari daerah sungai ayak, kecamatan belitang hilir saat ini, dekat kampung entapang/entingan sungai ayak.  Di tempat tersebutlah pernah terjadi peristiwa yang selalu dikenang oleh generasi mualang sampai era tahun 1990an. Adapun peristiwa terjadi berkaitan dengan kematian bala pasukan kayau pimpinan kedua Tua’ tersebut dalam rencana ekspansi ke wilayah pengayau lainnya.

Kayau memiliki arti memenggal kepala musuh, sedangkan mengayau adalah aktivitas melakukan serangan atau perjalanan dalam rangka mencari kepala musuh dari wilayah lainnya sesuai tuntutan tradisi di masa itu, berkaitan dengan kebutuhan menjaga keseimbangan kosmologi, menyangkut ritualisme yang masih melekat pada masyarakat saat itu. Kepala manusia dipercaya menyimpan semengat / kekuatan daya rohaniah yang mengandung roh seseorang di dalamnya, dipercaya membantu pemiliknya secara magis sesuai yang diperintahkan. Misalnya menjaga pertanian, menjaga kekuatan rumah panjang dan menjaga aktivitas keamanan gaib.

Suatu ketika rombongan Tua’ Badak dan Tua’ Buntak melakukan ekspedisi (bejalai) dengan maksud turun mengayau ke daerah lainnya melewati Lubuk Entulang, kedua Tua’ tersebut membawa serta bala (orang-orang / pasukannya), melewati daerah lubuk entulang. Setelah sampai di tepian lubuk entulang, bala pasukannya membuat penyeberangan menggunakan rotan yang di ikatkan melintang menyeberangi lubuk entulang tersebut, dan rotan tersebut dimaksud sebagai pegangan untuk pasukannya menyeberang. Adapun Tua’ Badak dan Tua’ Buntak, dikarenakan kelebihannya / kesaktiannya, mereka berdua dapat dengan mudah meloncat atau melayang ke seberang, membantu mengikatkan rotan untuk pasukannya. Setelah semuanya siap maka sambil menunggu bala pasukannya menyeberang, kedua Tua” tersebut masuk menyusuri hutan sekitar seberang lubuk entulang, guna melihat jejak / bekas (bekau), tanda maupun bekas-bekas jika ada musuh yang mengintai keberadaannya. Tak terasa setelah menginti-ngintai bekas musuh, kedua Tua’ tersebut melihat pertanda ular yang lewat melintang dari kiri ke kanan memotong jalan mereka. Menurut kepercayaan tradisi masyarakat mualang saat itu ular yang melintang dari kiri kekanan merupakan pertanda tak baik bermakna akan ada halangan. Namun karena kedua Tua’ tersebut merupakan pimpinan pasukan dan telah masuk wilayah musuh maka mereka tetap mengintai jejak dan memastikan musuh tidak mengetahui arah kedatangan pasukannya menyeberang. Tak berselang lama, bekas / keberadaan musuh diketahui, arah jejaknya tampak mengarah ke lubuk entulang, melihat hal itu kedua pemimpin pasukan tersebut langsung menghadang dan menghambat pasukan musuh yang begitu ramai, dan dalam posisi yang serba salah apakah balik memberitahukan ke pasukannya atau berupaya menahan gerak laju pasukan musuh bagaikan laju air mengalir, begitulah gerak laju musuh datang menyerang. Akhirnya keputusan yang diambil adalah bertarung menahan gerak laju musuh. Kedua Tua’ dari Mualang kemudian bertarung di daerah tersebut, keduanya menagkis dan menyerang melawan musuh, demikian pula mereka melesat / meloncat kian kemari  dengan menghunus nyaburnya, menyerang leher pasukan musuh, hal ini membuat korban dipihak musuh mulai berjatuhan, sampai suatu ketika seorang panglima perang dipihak musuh maju kedepan menghadapi Tua’ Badak, sementara Tua’ Buntak melawan bala pasukan lainnya. Serangan pasukan musuh yang bertubi–tubi menyambar kearah Tua’ Badak, dan dengan gesit Tua’ Badak menahan menggunakan Terabai (perisai) dan melakukan serangan balasan. Kedua panglima ini masing-masing mempunyai keahlian dan kekuatan mengalahkan lawannya selanjutnya berhadapan dengan panglima pasukan musuh, pertarungan tersebut membuat banyak korban dari pasukan musuh demikiaan pula membuat beberapa batang kayu bertumbangan terkena kibasan nyabur, semak-semak bertumbangan ketika terjadi saling serang diantara kedua panglima perang tersebut. Namun selanjutnya dengan meloncat tinggi dan memekik kuat (nyelaing), melalui satu tebasan kuat, nyabur (pedang) Tua’ Badak berhasil mengenai rekong (tenggorokan) panglima musuh, dan sekali lagi Tua’ Badak mengibaskan Nyabornya langsung memutuskan leher dan menjatuhkan kepala panglima musuh, membuat panglima musuh tumbang terkapar.  Melihat hal tersebut, bala pasukan musuh  spontan memencar sebagian kecil lolos dan terus menyerang kearah lubuk entulang.  Dan sebagian lagi berhadapan dengan kedua panglima perang Mualang. Setelah musuh yang dihadapi oleh kedua Tua’ Mualang semakin banyak yang tewas termasuk panglima perang nya, musuh mulai terdesak dan bersama – sama kompak menyerang Tua’ Badak dan Tua’ Butak. Maka kedua Tua’ inipun dengn kemampuannya mulai bertarung menewaskan musuh musuh tersebut, setelah yang dihadapinya tewas, kedua Tua’ inipun berbalik mengejar musuh yang memecah kearah Lubuk Entulang. Untung tak dapat diraih, malang tak bisa di tolak, demikian bunyi pepatah, dan tak disangka kedua Tua’ tersebut terlambat, sebagian kecil musuh yang berhasil mencapai tepian lubuk entulang telah berhasil memutuskan rotan penyeberangan dan membunuh semua pasukan Tua’ Buntak dan Tua’ Badak, yang sedang berupaya berenang mencapai tepian lubuk. Setelah musuh berhasil membunuh pasukan Tua’ Badak dan Tua’ Buntak, musuh langsung lari menjauh dari tempat tersebut. Ketika Tua’ Badak dan Tua’ Buntak tiba di Lubuk Entulang mereka melihat bekas-bekas serangan musuh, dan mereka berdua terasa sedih bercampur geram dan dendam, berjanji akan mengadakan perhitungan masuk ke kampong musuhnya. Dengan perasaan masih diselimuti emosi merekapun memotong kepala-kepala musuh yang telah ditewaskannya dan membawa pulang kepala musuh tersebut, serta menceritakaan kronologis yang terjadi di menua mualang. Hasil dari mengayau kedua Tua’ berhasil mendapatkan dua puluh buah kepala musuh yang tewas. Selanjutnya dilain waktu kedua Tua’ melakukan acara adat guna persiapan pengayauan balasan, dan mengundang bala (pasukan) yaitu para bujang berani, dengan maksud menyerang ke kampung musuh membalas atas serangan musuh terhadap peristiwa sebelumnya di lubuk entulang. Mereka melakukan ekspedisi pembalasan mengayau dengan membawa tigapuluh orang bala yang dibagi berdasarkan tiga kelompok. Sepuluh orang menyusup kedepan melapangkan jalan serangan dari musuh yang masuk, sepuuh orang lagi membuat persiapan penyeberangan pasukan dilubuk entulang menuju keseberang dan sepuluh orang lagi sebagai pasukan pengawal. Sampai ditepian lubuk entulang ,masing-masing mengerjakan tugasnya, seperti rencana semula dan kedua Tua’ mualang tersebut menunggu diseberang. Setelah semua pasukannya berkumpul, maka mulailah mereka menyelusuri arah masuk ke wilayah musuh dan disana mereka mengadakan serangan balasan.

Tua’ Badak dan Tua’ Buntak melesat ketengah-tengah pasukan musuh diikuti bala bujang berani dari mualang mereka bertarung melawan musuh menyebabkan kehancuran yang parah di menua musuh, dan musuh banyak yang terkayau, musuh yang tak dapat melawan di tangkap sebagai ulun atau hamba di bawa ke Menua Mualang dan mereka ditempat itu mendapatkan kira-kira  50 buah kepala musuh dan mendapatkan kurang lebih 50 orang ulun (hamba / tawanan) selanjutnya kepala musuh dibawa sebagai trophy kemenangan. Adapun tawanan yang kalah perang dibawa pulang. Kemudian dalam perjalanan pulang mengayau dan mengalahkan musuh menuju pulang, pasukan Tua’ Badak dan Tua’ Buntak menemukan jejak yang baru dilewati, serta bekas pelarian musuh, untuk bersembunyi. Ketika bala Tua’ Badak dan Tua’ Buntak menyelusuri jejak musuh tersebut, maka ditemukan tempat persembunyian musuh di sebuah batang pohon yang tumbang yang berdiameter besar. Melihat hal tersebut, pasukan Tua’ Badak dan Tua’ Buntak menyebar dan mengepung tempat persembunyian tersebut, sedangkan musuh yang bersembunyi tak bisa lari kemana-mana sebab dihadang di depan dan diujung pohon. Pasukan Tua’ Badak dan Tua’ Buntak berupaya memaksa musuh keluar dari tempat persembunyiannya, namun musuh yang bersembunyi enggan untuk keluar, maka beberapa bala Tua’ Badak dan Tua’ Buntak menombak satu bagian lubang persembunyian tempat musuh masuk  dan tombakan tumbak tersebut mengenai pantat musuh yang bersembunyi, hingga mereka berteriak “Ku ka ku yak dau” (artinya aku terus, yang itu belum) hal ini jadi bahan gurauan orang-orang mualang secara turun temurun mengejek orang-orang wilayah tersebut. Selanjutnya satu persatu musuh yang ditombak mati ditarik satu persatu, beberapa dari musuh memaksakan diri melawan keluar dari persembunyian dengan sigap bala bujang berani mengibaskan nyaburnya memancung kepala musuh. Dari 10 orang musuh yang bersembunyi di dalam pohon tersebut tujuh orang mati terkena tombak dan dipancung pasukan mualang, sementara tiga orang yang masih hidup ditawan sebaga ulun (hamba/ budak) dibawa pulang ke menua mualang.

Setelah selesai peristiwa pembalasan mengayau, Tua’ Badak dan Tua’ Buntak pulang bersama bala pasukannya membawa kemenangan perang, dan membawa kepala musuh dan tawanan perang. Sampai dimenua mualang pasukan Tua’ Badak dan Tua’ Buntak disambut upacara adat ‘Ajat Temuai Datai” (menyambut pahlawan yang pulang dari pengayauan membawa kemenangan) Adapun kepala musuh disambut dengan ngajat pala’ oleh perempuan-perempuan  mualang, disambut dengan kain kebat diatas talam atau wadah dan mereka mengadakan gawai pala (perta adat kemenangan menyambut kepala hasil mengayau) Demikianlah kisah pengayauan Tua’ Badak dan Tua’ Buntak dimenua mualang, sampai sekarang lubuk entulang dikeramatkan oleh orang-orang mualang dan dipercaya angker (menyeramkan) dimasa lalunya orang sering menemukan sisa-sisa tulang yang dipercaya adalah sia-sisa pasukan Tuak Badak dan Tua’ Buntak yang meninggal ditempat itu.

 

Sumber :

1.     Alm.  Akek Sengkuang, dikisahkan tahun 1990,

2.     Alm Temenggung Paku Kerbau yang dituturkan ke generasi selanjutnya, dan beberapa sumber lain daerah Mualang.

Cerita  diskripsikan ulang Th. 2020

 

 Keterangan:


1.     Ibanic = kelompok Dayak Iban.

2.     Tua’ dalam bahasa Iban Mualang adalah : Panglima Perang.

3.     Bala = Pasukan / Orang-orang pengikut / rombongan

4.  Bujang Berani adalah para pemuda / bala yang keberaniannya dalam bertarung tak diragukan, bujang berani adalah petarung sejati dalam mengayau.

5.     Gambar orang mualang tahun 1920 ( Tropen Museum ) sebagai Ilustrasi.