Dayak Community

Dayak Community

Tabe' Art and Culture

BETUNGKAT KA ADAT BASA, BEPEGAI KA PENGATUR PEKARA

AGIK IDUP. AGEK NGELABAN

TABE' Ngau Bala Pengabang Da Ruai Kami

SANGGAR SENGALANG BURONG




Minggu, 24 Maret 2019

DAYAK MAN


MENYUMPIT

FOSE PERTAHANAN

Selasa, 16 Oktober 2018

Sekelumit Catatan Tari Dayak ( John RP 2010 )











 Tari Dayak Kalimantan Barat ( John RP ) 2010

Pada umumnya kesenian Dayak dirasakan sangatlah menyatu dengan kehidupan alam yang mengandung keariban local, local genious  menurut lingkungan dan pada Zamannya.
Borneo merupakan sebutan bagi Pulau Kalimantan dimasa lalu dengan segala bentuk keindahan alam, terpeliharanya kehidupan seni budaya serta masih mempunyai ekosistem yang original untuk dinikmati secara visual, termasuk kehidupan seni pertunjukan maupun seni rupa Dayak. Kehidupan yang ramah lingkungan tersebut tentunya lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan sekitar seperti hutan belantara, tanah, sungai dan sebagainya. Hal ini menjadikan masyarakat Dayak sebagai manusia asli pulau borneo yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan alam. Menurut beberapa budayawan Dayak dikatakan bahwa: ‘Tanah, sungai dan hutan adalah tiga elemen yang penting yang memungkinkan seorang hidup sebagai seorang Dayak sejati, selama berabad-abad tiga elemen ini telah membentuk suatu identitas yang unik yang kita kenal sekarang sebagai orang Dayak, kebudayaan Dayak termasuk keseniannya, hukum adat Dayak dan kepercayaan Dayak.[1]
Di Indonesia bahkan dunia setiap suku bangsa, memiliki kearifan local masing masing menyangkut seni budaya yang lahir sebagai proses perkembangan pengetahuan suatu Bangsa. Berdasarkan hal itu, salah satu kesenian Dayak yang mengandung Kearifan Lokal yaitu; Seni Pertunjukan terdiri dari Seni Tari, Seni Musik, Seni Sastra, dan Seni Rupa.
Dalam Seni Tari Dayak, gerak yang dilakukan pada dasarnya mengandung gerak-gerak maknawi ( gerak yang mengungkapkan arti ) sebagai simbol hubungan antara manusia dengan Ketuhanan, Hubungan Manusia dengan Alam, Hubungan Manusia dengan Binatang ( pelestarian satwa ) dan hubungan manusia dengan manusia, ( menyangkut pergaulan / harmonisasi dengan sesama manusia ).  Hal ini mencerminkan bahwa seni tari Dayak sejak lahir dari masa lalu telah mengatur kehidupan simbolisasi hubungan – hubungan menyangkut tata cara nilai dan norma yang kini diwariskan oleh para leluhur agar ditaati oleh generasi penerus. peninggalan warisan purba ditanah ini merupakan warisan murni diberikan sang Pencipta melalui Alam yang kemudian dijalankan oleh masyarakat Dayak. Kehidupan kesenian masyarakat Dayak, dapatlah dikatakan kesenian murni pemberian alam hal ini dikarenakan kesenian Dayak telah lahir sebelum pengaruh kebudayaan agama-agama resmi di Indonesia mempengaruhinya. ( masih asli alamiah )

 A.    MAKNA DAN SIMBOL DALAM RAGAM GERAK TARI DAYAK.
Tari Dayak merupakan warisan leluhur, mengandung nilai-nilai positif yang bermakna, berpengaruh terhadap pola kehidupan social masyarakat Dayak secara kolektif dalam kehidupan social. Berbicara mengenai makna dan symbol dalam tari Dayak, maka seseorang harus mengetahui latar belakang suku Bangsa Dayak secara umum, sedangkan Suku bangsa Dayak terdiri dari ratusan puak-puak  dan masing-masing puak mempunyai persamaan maupun perbedaan. Kali ini penulis coba untuk mengamati kesenian Dayak melalui pendekatan ethnolinguistic ( kelompok Dayak serumpun yang mempunyai lebih dari enampuluh persen kemiripan bahasa ) maupun pendekatan pengamatan melalui specification culture ( kebudayaan secara khusus / kesamaan budaya serumpun tersebut secara khusus ). Pengamatan melalui kemiripan bahasa secara umum menyatakan bahwa kelompok tersebut memiliki hubungan yang satu dan terpisah serta tersebar keseluruh borneo. Demikian juga pengdekatan melalui kemiripan kebudayaan. Misalnya: Kesenian Dayak Kanyatn Group, Kesenian Dayak Bidoih Group, Kesenian Dayak Ibanik Group, Kesenian Dayak Banuaka / Tamanik Group, dan Kesenian Dayak Kayaan Mendalam.
Untuk mengamati Makna tari Dayak, maka perlu kiranya untuk mengetahui tarian tersebut, ragam gerak tarian dan kesenian Dayak secara umum. Maka berdasarkan pola pengamatan seperti diatas dapat dipahami bahwa ragam / motif gerak tari  menurut Preston –donlop adalah: Pola gerak sederhana, tetapi didalamnya terdapat sesuatu yang memiliki kapabilitas untuk dikembangkan.[2]

1.      RAGAM MENYANGKUT SIMBOLISASI HUBUNGAN VERTIKAL MANUSIA DENGAN KETUHANAN.
a.      Ragam / Motif Gerak Jubata  ( Dayak Kanayatn - Bukit / Ahe ) Ragam Gerak Jubata jika diamati dan dikaji berdasarkan realisme, gerak ini menyimbolkan gerakan menyembah,/ berserah dengan mengangkat kedua tangan dan menadahkan telapak tangan menghadap ke atas, demikian juga kepala mengadah ke atas hal ini diterjemahkan bahwa gerak Jubata mempunyai makna Permohonan ataupun pengharapan kepada Tuhan atau Jubata. Selain kedua telapak tangan dan kepala mengadah keatas / atau diangkat, kedua kaki ( tumit ) dihentakkan bergiliran ke bumi, hal ini dapat diartikan sebagai pemberitahuan / mempertegas gerak agar menarik perhatian sang Pencipta ( Jubata ) agar mengabulkan permohonan manusia. Ataupun symbol gerak tari tersebut dimaknai sebagai bentuk ungkapan untuk bertahan hidup / bekerja keras  ataupun dapat diartikan mohon dilindungi ataupun diberkati ataupun penyampaian pesan kepada tuhan atas anugrah yang diberikan oleh tuhan kepada manusia. ( misalnya keberhasilan dalam panen padi ).  Kesimpulannya bahwa telah terjadi kontak dalam bentuk symbol dan makna ( diwakili oleh penari yang melakukan ragam gerak Jubata ) dalam hubungan  vertical antara manusia dengan Tuhannya.

2.      RAGAM MENYANGKUT SIMBOLISASI HUBUNGAN MANUSIA DAN ALAM
Gerak yang berhubungan antara  manusia dengan keseimbangan Alam di lukiskan dengan gerakan yang menirukan kegiatan manusia maupun alam yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Misalnya ragam : Ngajat Niti Papan, Gerak Bunga Ngeremay ( Dayak Mualang versi Penulis ). Ragam Niti Poon / Niti Papan, merupakan simbolisasi dari gerak tari yang menggambarkan sifat saling membutuhkan antara manusia dan alam. Gerak ini diibaratkan berjalan dengan sangat hati-hati meniti sebuah Pohon tumbang atau papan dengan penuh keseimbangan dan kehati-hatian untuk melewati sebuah rintangan baik berupa sungai maupun hambatan lainnya. Sedangkan ragam gerak Bunga Ngeremay menyimbolkan bunga yang sedang mekar atau berkembang, sebagai awal menjalani kehidupan alam dan berinteraksi dengan alam luas. Hal ini merupakan symbol kehidupan baru bagi manusia bagaikan pohon kehidupan yang berkembang yang dijaga oleh alam dan semua kebutuhannya di sediakan oleh alam.

  3.      RAGAM MENYANGKUT SIMBOLISASI HUBUNGAN MANUSIA DENGAN BINATANG ( PELESTARIAN SATWA ).

Gerakan yang berhubungan dengan pelestarian satwa atau binatang, disimbolisasikan dengan mengadopsi gerak-gerak burung, misalnya: gerakan burung ruai, gerakan burung kenyalang, gerakan kesulang dan lain-lain versi penulis menurut Dayak Mualang. Burung ruai merupakan burung yang dilihat secara visual mengandung nilai artistic, hal ini didukung oleh corak bulu-bulu yang indah sebagai symbol kecantikan. Dalam gerakan ini  disimbolisasikan melalui gerak seekor burung ruai yang sedang terbang sambil menggepakkan sayap. Kemudian gerak burung kenyalang. Burung kenyalang merupakan burung yang mempunyai status tertingi dalam kepercayaan masa lalu, burung ini merupakan burung yang penuh dengan kesetiaan terhadap pasangannya, sempunyai suara yang indah dan keras telah menginspirasi masyarakat Dayak agar segala sifat yang terdapat pada burung ini mereinkarnasi padanya ketika menari, hingga timbulah gerakan gerakan berdasarkan gerakan burung Kenyalang yang telah distilisasi sesuai keadaan lingkungan dan sudut pandang keindahan saat itu. Selanjutnya adalah gerakan Lang / lang nginang  yang merupakan gerak berhubungan dengan mytrologi masyarakat Dayak Mualang, sebagai gerakan yang diajarkan oleh orang-orang khayangan atau orang Buah Kana di negeri Pangau ( langit ). Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa beberapa jenis binatang dipercaya sebagai symbol pengetahuan local genious, menyatu  menjadi  teman  harmonis yang melahirkan bahasa symbol  pengetahuan dan pengalaman terhadap sesuatu yang akan terjadi.

Catatan:
Dalam mytrologi Dayak Mualang  ada Legenda tentang Sengalang Burong yang mengisahkan adanya ketergantungan dan keakrapan manusia terhadap Fauna. Sengalang Burong adalah Dewa bagi kehidupan masyarakat Iban dan Ibanik yang menitis melalui tujuh ekor burung dipercaya sebagai sumber penuntun dan pemberi pengetahuan bagi manusia, Sengalang Burong mengajarkan kepada manusia berbagai macam bentuk ilmu pengetahuan dan cara  mempertahankan hidup serta  Tata Cara Adat Istiadat yang dibutuhkan masyarakat pendukungnya saat itu.

4.      RAGAM MENYANGKUT SIMBOLISASI HUBUNGAN MANUSIA DENGAN SESAMANYA.
Hubungan antara manusia satu dan yang lainnya telah di simbolisasikan dengan ragam gerak Ragam Ngiring Temuai ( Dayak Mualang ), yang mempunyai makna memandu dan memberikan perlindungan terhadap tamu / temuai yang datang ke komunitasnya. Tamu ibarat Raja, dimasa lalu jika ada tamu yang berkunjung ke daerahnya maka komunitas Dayak Mualang, akan mengadakan Upacara Penyambutan Tamu ( Ajat Temuai Datai ). Disamping itu adapula beberapa ragam gerak berpasangan dalam tarian Jonggan ( Dayak Kanayatn_Bukit / Ahe ), ragam gerak dalam Tarian Kondan ( Dayak Bidoih Sanggau Kapuas, Jangkang ).
Gerak-gerak tersebut mencerminkan hubungan komunikasi melalui bahasa tubuh, yang memuat pesan direspon secara maknawi oleh orang yang ikut terlibat dalam suatu acara kesenian tersebut. Misalnya gerak Ngiring Temuai yaitu gerak memandu tamu atau mengantar tamu ketempat tujuan, gerak berpasangan dalam tarian Jonggan, Gerak berpasangan  dalam tarian Kondan dsb.

Seni Pertunjukan Dayak sangatlah kaya akan makna dan symbol warisan dari leluhur, selain seni pertunjukan yang didalamnya penuh dengan makna, hal tersebut juga terdapat dalam dunia seni rupa Dayak. Di dunia Seni Rupa Dayak, terdapat simbolisasi dan makna keariban local, misalnya: Seni Lukis, Seni Pahat, Seni Patung, Seni Anyaman, Seni Tenun, Seni Ukir dan lain-lain. Dunia Seni Ukir pada masyarakat Dayak banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya salah satunya yang menyimbolkan keagungan Tuhan, kemegahan alam, manusia, binatang maupun makhluk gaib. Salah satu ornament yang disebut Sulur, Paku’ merupakan simbolisasi hubungan antara manusia dengan alam. Sulur dan Paku’  merupakan simbolisasi kehidupan yang dijalani manusia menyangkut pergaulan, didefenisikan ibarat paku yang menyebar dan tumbuh sumbur di dataran tinggi maupun rendah. Begitulah manusia dapat hidup berdampingan walaupun miskin dan kaya. Selanjutnya ornament yang menyimbolkan ketakwaan maupun keagungan Tuhan, yaitu Ukiran Dulang Inek Manang sebuah wadah pesembahan dari manusia kepada Tuhannya Jubata / Petara, sebagai ungkapan penyampaian  niat.


[1] Surjani Alloy, Albertus, Chatarina Pancer Istiyani. Mozaik Dayak ; Keberagaman SUB SUKU DAN BAHASA DAYAK DI KALIMANTAN BARAT. Pontianak: Intitut Dayakologi. 2008.p.19
[2] Jacgueline Smit : Komposisi Tari ; sebuah petunjuk praktis bagi guru terj. Ben Suharto, Ikalastri Yogyakarta 1985.p.35.

Rabu, 30 Maret 2016

Tari Pedang ( Ngajat Pedang ) Dayak Mualang ( Ibanik)






TARI DAERAH KABUPATEN SEKADAU
John Roberto P, S.Sn.,M.Si  ( 20 Mei 2010 )



  1. TARI PEDANG  DARI SUKU DAYAK MUALANG ( Ibanik Group )
KALIMANTAN BARAT.

Tari Pedang ( Nyabor ) pada masyarakat Dayak Mualang ( Ibanik Group) dahulu kala dikenal sebagai Ritual Pemujaan Pedang sebelum seseorang akan pergi Mengayau ( head hunter ). Mengayau atau memenggal kepala adalah suatu syarat bagi seorang laki-laki yang beranjak dewasa apabila ia akan membina rumah tangga dalam pengertian yang berhubungan kepercayaan saat itu, ia akan mampu menjaga keluarganya dari serangan suku-suku lainnya di jaman pengayauan, sebab masa itu sebagian besa suku Dayak memiliki tradisi mengayau. 

Ritual tari pedang ini diawali dengan suau upacara adat yang dipimpin oleh ketua adat dengan mengundang roh-roh leluhur untuk memohon petunjuk dan memberikan kemudahan bagi si anak laki-laki yang akan melakukan ekspedisi Mengayau.
Adapun Roh-roh leluhur yaitu: para leluhur sakti atau Panglima Perang yang berhubungan dengan dunia dewa-dewi ( Sak Pangau ) yang di sebut Tuwak dalam bahasa Mualang, di undang untuk hadir dan menemani sang anak mengayau yaitu:

  1. Tuwak Minai
  2. Tuwak Keling
  3. Tuwak Labong
  4. Tuwak Hijau
  5. Tuwak Pungak
  6. Tuwak Laja
  7. Dsb ( sesuai keinginan dan diperkirakan cukup, karena setiap tuwak punya keahliannya masing-masing dalam pengayauan )

Adapun maksud dari mengundang roh-roh leluhur yaitu mengharapkan petunjuk yang dipesan melalui mimpi. Selain itu ketua adat juga menganjurkan kepada si anak agar memperhatikan tanda-tanda dari Sengalang Burong ( Burung Keramat / burung petuah )
Diantaranya: Burung Gemuas, Burong Bejampong dsb. Setelah mendapatkan tanda-tanda maka sang anak akan memberitahukan kepada Ketua adat dan ketua adat memberikan petuah. Selanjutnya maka Ketua adat menghamburkan beras kuning dan mulailah sang anak melakukan pemujaan terhadap pedang dengan cara menari.

Adapun Ritual Pemujaan Pedang diawali dengan:

  1. Menyembah dan menitipkan perintah / pesan kepada pedang ( seolah-olah ada komunikasi si anak dan pedangnya tersebut.

  1. Mengelilingi Pedang sebanyak 3 ( tiga ) kali, kemudian mengambil pedang dan diikatkan di pinggangnya. Pada saat mengikat pedang sang anak melakukan gerakan yang disebut: Langkah Pecah Empat.

  1. Ketika pedang telah terikat, gerakan semangkin cepat, kemudian sang anak melakukan gerakan Langkah Pecah Dua Belas.

  1. Gerakan selanjutnya yaitu: meletakkan pedang pada posisi baring di bahu sambil memutarkannya, hingga pedang tersebut dapat berpindah  ke kiri dan kanan  dan gerakan tarian Pedang diakhiri dengan menyembah menghadap ke depan.

Jika semua ritual Pemujaan pedang, yang didalamnya memuat tari sebagai bagian dari ritualisme seorang ksatria yang akan turun mengayau selesai dilakukan, maka keesokan harinya Sang anak harus segera berangkat mengayau, apabila terjadi hal-hal yang mengganggu keberangkatan hingga menyebakan batalnya ekspedisi mengayau pada hari akan pergi, maka ritual pemujaan pedang harus dilakukan lagi dari awal.

Ritual Pemujaan pedang, yang didalamnya memuat tari pedang sebagai bagian dari upacara ritual dalam pengayauan, diiringi oleh Instrumen atau tebah yang disebut: Tebah Unup yang terdiri dari: dua buah Tawaq ( Kempul ) dan dua Buah Entebung ( gendang panjang Dayak Mualang )

Sedangkan Kostum yang digunakan oleh Sang Anak / Ksatria yaitu: Rompi Maram lengkap sirat, Tengkulas ( lilitan kepala ), Tengkelai ( gelang lengan ), dan gelang giring.

Di masa kini Kegiatan Mengayau telah tidak ada lagi sejalan dengan tingkat pengetahuan dan Agama telah masuk ke komunitas Dayak Mualang, tetapi pemujaan pedang kadang kala masih dilakukan sebatas bagian Tari Pedang. Tari Pedang yang merupakan warisan nenek moyang dimasa lalu tidak berubah, namun disesuaikan dengan gaya atau gerak orang masing yang menarikannya. Sedangkan Upacara adat memanggil roh leluhur / Dewa – dewi khayangan sudah tidak dilakukan lagi.

Masyarakat Mualang sangatlah komiten agar tidak melakukan pemanggilan leluhur dalam melakukan tari pedang sejalan dengan perkembangan jaman, karena jika dilakukan ritual pemanggilan roh leluhur, konsekwensinya harus melakukan ekspedisi Mengayau, jika tidak maka yang bersangkutan dan masyarakat pendukungnya di percaya akan mengalami mala petaka.

 Urutan Tari Pedang setelah ritual pedang tidak dilakukan lagi:

1.        Penghormatan kepada pedang
2.        Penghormaan kepada orang di sekitar pedang
3.        Bunga Pincak
4.        Gerakan posisi setengah tiang
5.        Nyabut pedang
6.        Nyabut pedang secara perlahan-lahan, karena pedang mempunyai manna (kekuatan ) dengan gerakan langkah pecah empat
7.      Pedang diangkat diatas bahu, sambil ditarikan dan berputar tiga kali.
8.      Melakukan gerakan atau langkah pecah 12
9.      Melakukan gerakan memainkan pedang, seolah-olah melakukan gerakan berperang, dan siap turun perang
10.  Nyarong pedang ( memasukan pedang kembali kesarungnya ) kemudian pedang tersebut di lepaskan dari pinggang. dan diletakan tetap dengan gerakan tari.
11.  Penghormatan ( nyemah pedang ) dan memberikan penghormatan kepada orang-orang / tamu ( nyemah temuai )
12.  selesai





Sumber / Informan:

  1. Nama               : Edmundus Linggie
Umur               : 68 Tahun
Jabatan            : Temenggung Dayak Mualang Kampung Merbang
                          Kecamatan Belitang Hilir- Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat
    
  1. Nama               : Alm. Sutardianus Buan
Umur               : 46 Tahun
Alamat            : Dusun Merbang Desa Merbang
  Kecamatan Belitang Hilir  Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat.








Senin, 08 September 2014

Foto Dayak Mualang ( Ibanik ) Kalbar


Dokumen Iban Mulang Donaus Dun Selman 1959 dan Tropen Museum 1920 




Dokumen John RP. 2020


Dokumen 
Donatus Dun Selman 1959









Tropen Museum 1920 Kelamik Maram
Kelamik Tateng


Kelamik BOK



Gawa ( Tpoeng )



































Jumat, 27 Juni 2014

Seniman Kalimantan Barat

Biodata dan Karya Seni

Nama : John Roberto Panurian, S.Sn.,M.Si
Tempat Tanggal Lahir : Sintang 23 September 1976
Status Kegiatan : Pemerhati Seni Tari dan Seni Budaya
Alamat : Duta Bandara Blok. C3 No. 3    Kabupaten Kubu Raya




MOTTO:
SENI ADALAH NAPAS KEHIDUPAN KU

Sekilas Profile

 John RP.


Terlahir diberikan nama oleh kedua orang tua : John Roberto Panurian, setelah menempuh Pendidikan taman kanak-kanak, melanjutkan  Pendidikan ke  Sekolah Dasar Usaba dan pindah ke SDN 08/04 Jl. Pak Nibung 2 Delta Pawan (Kepsek semasa Pak Ali), meneruskan Pendidikan menengah ke SMP Usaba 2 Ketapang. (semasa Sr. Agnes) Di SMP Usaba 2, aktivitas kesenian mulai tumbuh dan berkembang, dirintis melalui hobi Seni Musik (Gitar) dan Seni Suara (Vokal), dan seringkali mengikuti kelompok Band lokal (Ampi Utara) dan mulai show (pentas) ke beberapa tempat di Kabupaten Ketapang, diantaranya pementasan di Sungai Daka (perkawinan)  Kec. Laor Kuning, pementasan di Satong (Tolak) Kab Kayong Utara Sekarang. Setelah menyelesaikan Sekolah Menegah Pertama di Ketapang (SMP Usaba 2) meneruskan Sekolah Menengah Atas di SMA ST Fransiskus Asisi Pontianak Tahun 1993, dan mulai mengenal bakat dan minat kesenian di Kalimantan Barat, serta aktif kegiatan kesenian di sekolah. Diantranya mengikuti beberapa kegiatan kesenian Gawai Dayak, Sanggar Kesenian) Tahun 1995 melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Jurusan Tari (Komposisi Tari) sempat cuti (1997) selanjutnya menyelesaikan study sampai selesai tahun 2002.

Setelah menamatkan Perguruan Tinggi, pulang ke Pontianak Kalimantan Barat dan mulai aktif di kegiatan kesenian.  Pernah menjadi guru honor di SMA Gembala Baik, (Sr. Arnolda Kep Sek) dan di SMA YPK. Pernah menjadi Pegawai Honor di Taman Budaya Kalbar. Ikut bergabung Aktif sebagai Koreografer di Sanggar Sengalang Burong Tahun 2020.


Pengalaman Bidang Seni

 

1.    Menggarap Ulang Tari Baliatn, Tgl. 5 Mei 1995, Tempat: Auditorium Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta

2.    Menjadi Penari Burung Tinggang, 2 Juli 1996, Tempat: Gedung Senayan Jakarta

3.    Membuat Koreografi Tari Mandau 20 Mei 1996, Tempat Gedung Graha Sabha Pramana UGM Yogyakarta.

4.    Membuat Koreografi Tari Mengayau 20 Mei 1997, Tempat Panggung Kesenian Kampus Pertanian UGM Yogyakarta, dalam acara Gajah Mada Fair.

5.  Membuat Koreografi Tari Merindang 23 Desember 1997, Tempat di Studio Audio Visual.Stasiun Televisi Indosiar Cabang Kali Urang Yogyakarta.

6. Menjabat sebagai Koordinator I Keluarga Seniman Dayak Kalimantan Barat Yogyakarta (KSDKB) Periode 1995 – 1997.

7.  Bergabung sebagai anggota Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSP) sebagai Pecinta Tari Tradisi periode 1996 – 1999 di Yogyakarta.

8.    Menata Ulang Tari Baliatn 2 Versi Dayak Kanayatn, April 1998 di Auditorium Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Acara Ujian Komposisi Koreografi V(lima)

9.    Membuat Koreografi Tari dengan Judul “Tattoo” April 1999 di Auditorium Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta Dalam Ujian Komposisi Koreografi VI.

10. Menciptakan Tarian Dengan Judul “Lang Ngindang” di pentaskan dalam Acara: Musik dan Tari Dayak Borneo, Produksi KSDKB, 1 Suro April 2000 tempat: di Pendopo Jenengan, Maguwoharjo, Sleman Yogyakarta.

11. Di percaya sebagai Stage Kru dalam Acara: “The Asia Modern Dance  Interaction  III “Tempat: Societet Militer, Beringharjo 16-18 Mei 2000.

12. Di percaya Sebagai Pemeran Utama dalam pementasan Teater dengan Judul “ Rangga Benyawai “ Karya David Dino Wijaya, 26 Juni 2000 di Auditorium Teater, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

13. Di percaya sebagai Stage Manager dalam Acara: Colaboration Mania, menampilkan karya Tari dengan judul: First Layer Karya Wendi MC Phee dari Australia di Auditorium Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta 15 Desember 2000.

14. Menjadi Penari Tunggal tari Dayak dalam Acara Promosi Lukisan tentang Dayak Iban, Tempat di Embun Art Gallery, Wirobrajan Yogyakarta 30 Maret 2001 Pameran Tunggal danb Lukisan Karya Bapak Sopandi.

15. Menciptakan Karya Tari dengan Judul “Ajat Temuai Datai” Dayak Mualang 26 Januari 2002 sebagai Tugas Akhir Memperoleh Gelar Sarjana Seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

16. Tari Dara Kenyalang. Karya: John R.P. Syukuran Gubernur dan Wakil Gubernur dengan  tema “ Harmonis dalam Ehnis”. Kalimantan Barat. Pada tanggal 14 Januari 2003 di Hotel Mahkota Pontianak.

17. Tari Merindang Temuai. Karya: John R.P. Hut Pemda TK I Pontianak. Februari 2003 di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat.

18. Dramatari Pertobatan di Tanah Dayak. Karya: John R.P. Natal Dayak, 24 Februari 2003 di Auditorium Universitas tanjungpura Pontianak.

19. Pemeran dalam Kolaborasi Teater dengan Sanggar Terabai, Mendu. Mahkota yang Hilang. Performance Art. Penata Tari: John R.P. 8   maret 2003, di Gedung Kartini.

20. Foto Model sosok Pria Dayak. Model: John R.P, Ida. Produksi Stasiun RCTI, dirumah Adat (betang) Pontianak, 23 Mei 2003.

21. Mengangkat Tari Pinggan. Tradisi, Penari: Agung Mba. Pekan Budaya Anak Bangsa. Di Auditorium RRI, 27 April 2003.

22. Tari Theatrikal. Teroris Ka’ Banua Diri” Lanjutan Pekan Budaya Anak Bangsa. Koreografer: John R.P. 23 Mei 2003. Taman Budaya Pontianak.

23. Tari Ajat Temuai Datai, tradisi. Penari: Sanggar Sengalang Burong dalam rangka resepsi perkawinan di Gereja MRPD Juli 2003 Pontianak.

24. Pentas Dramatarimusikal, dalam show Semalam di Betang. Koreografer: John R.P. 7 Juni 2003.

25. Pementasan Tari Tawaq. Karya: John R.P. Penyambutan Tamu dari Pangkal Pinang. Dipendopo Gubernur Provinsi Kalimantan barat.

26. Pentas Theatrikal. Ketika Bunda Alam bicara. Penata Tari John R.P. Pada acara Apresiasi Musik Senggayong dari ketapang Agustus 2003 di Taman Budaya Pontianak.

27. Tari Baliatn. Karya: John R.P. Pada pembukaan Festifal Seni Budaya Keraton Serumpun di Mempawah, 26 Agustus 2003.

28. Pentas Kolaborasi dengan komunitas SILVA Fakultas Kehutanan. PC Untan. Hari Lingkungan Hidup. Koordinator: Beni Dermawan. Mei 2003 Pontianak.

29. Kolaborasi dengan anak didik Teater Taman Budaya Pontianak. Tanah Airku. Pada peringatan Hut RI ke 58 di Pendopo Gubernur, Sutradara: John R. P. 17 Agustus 2003.

30. Pentas Dramatarimusikal, “Don’t Cry Your Art and Culture”, Anomali, Berteduh di Betang. Koreografer: John R.P. September 2003.

31. Pelaku seni dalam Opera Kabu-Kabu. Sutradara: Heri Ansari, S.Sn. kolaborasi dengan bengkel teater, bengkel tari, bengkel musik dan beberapa kelompok kesenian serta seniman Pontianak. 27 September 2003 di Taman Budaya.

32. Apresiasi Seni. Pada kunjungan Pekan Gawai Dayak II Kalimantan Barat di Yogyakarta. Pimpinan: John R.P. Dan kunjungan ke Lembaga Indonesia Perancis (LIP), Apresiasi seni ke STSI Surakarta dan Taman budaya Surakarta. 27 Oktober – 2 November 2003.

33. Tari Baliatn. Karya John R.P. Dalam Rangka Festifal Tari Kreasi Kalimantan Barat dalam Event FBBK, sebagai penyaji dan penata tari terbaik Kalimantan barat 27 Desember 2003 di Pontianak.

34. Utusan Kalimantan Barat dalam acara Parade Tari Daerah se Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah. Sebagai Koreografer Kalimantan Barat. Desember 2003 Jakarta.

35. Peserta cipta yel yel pada Kuis Siapa Berani, pada Stasiun Televisi INDOSIAR. Mewakili Kalimantan Barat dan Juara II Favorit pemirsa dari lima wakil terbaik masing-masing daerah di Indonesia. Desember 2003.

36. Tari Menyumpit, pada bulan Februari 2004 di gedung kartini Pontianak dalam rangka deklarasi pendukung Calon Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono).

37. Menggarap Display Tari Nusantara pada acara Meratap dan Menatapi Nusantara 20 Juni 2004 dalam rangka hari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), turut hadir artis Ibukota Franky Sihalatua.

38. Menciptakan Karya Tari Pertobatan yang di Pentaskan di GKTI Kal-Bar dalam rangka Simposium Nasional di Pontianak. Bulan Juli 2004

39. Sebagai Penari pada Tari Kelahiran Kembali pada acara Natal Rukun Ayong Mualang. Karya: Fransiskus Sukardi.  Januari 2004 Pontianak.

40. Pelaku seni pada Tari Pergaulan dan Visualisasi kelahiran Kristus. Penata Tari Sanggar SSB. Pada Natal PTPN XIII, Januari 2004. Pontianak.

41. Tari Kontemporer, Usah Nangis dalam acara Pisah sambut Bupati Kabupaten Pontianak 12 April 2004, Mempawah.

42. Membuat Klip Lagu daerah Jangkang, Krio dan Mualang, berkerjasama dengan Stasiun TVRI Pontianak. Penata Gerak John R.P. Kalimantan Barat. April 2004, Pontianak.

43. Membina Seni Tari Sebagai Asisten Koreografer pada kegiatan MTQ ke XXI Tk. Nasional di Putusibau Kalimantan Barat Tgl. 3 Maret 2005

44. Menggarap Ulang Tari Nyambut Temuai 13 Mei 2008 dalam acara Penyambutan Kepala Staf Angkatan Udara di Bandara Supadio. Koreografer: John Roberto P.

45. Membuat Tari dengan judul: Perjalanan Notokng, untuk Sanggar Banyuke dalam acara Festival Tari Kreasi Gawai Dayak Kalimantan Barat 21 Juni 2008, mendapat Juara II se-Kalimantan Barat. Koreografer John Roberto P.

46. Mencipta Tari dengan Judul: Main Lalau 4 Juni 2008 di Tampilkan di Gedung JCC Jakarta Senayan. Koreografer: John Roberto P.

47. Menarikan tarian dengan judul, Ngajat Bado’ Ngayau di Taman Budaya Surakarta Jawa Tengah  bekerjasama dengan Christian Mara, dalam tim Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat Tgl. 13-15 Agustus 2008.

48. Menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu daerah Mualang Dayak’s Songs From Sekadau dan Sintang Kalimantan Barat, melalui Jurong Production House (Rinja Serima Asal Ketapang); lagu-lagu diantaranya, De kutak katik, Meh Bujang, Sayang, Aku Nadai Dara, Uan Apai, Apak Ibok, Cakap Pesau, Ngenang Meh, Aboh Beramay.  Tahun 2008 di Pontianak.

49. Ikut Dalam Silahturami Budaya Dayak Seluruh Kalimantan di Percaya dari Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (Sekberkesda) Kalbar, sebagai penanggung jawab bidang seni pertunjukan Seni. Pada Tgl. 4 sampai 7 Desember 2009 di Kuching Serawak dan di Negara Bagian Sabah Malaysia pada acara Kerjasama Kebudayaan, Pendidikan, Sosial dan Budaya yang di motori Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) dengan Sarawak Dayak Nasional Union (SDNU) Serawak Malaysia.

50. Ikut Menari dalam prosesi Penyambutan para Fotografer dan Artis dari Jakarta salah satunya Jay Subiakto yang diselenggarakan Asosiasi Arsitek Kalimantan Barat Pontianak di rumah Betang Sutoyo hari Jumat 6 Februari 2009

51. Sebagai Pimpinan Produksi Grafhic Entertain, Kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Unit Taman Budaya Kalimantan Barat mempersembahkan Gelar Seni Tari Tradisi dan Kreasi pada tanggal 21 April 2009 di Teater Taman Budaya.

52. Koreografer Tari Dayak dalam Olympiade dan Seni Tingkat Provinsi Kalimantan Barat 3 – 5 Mei 2009 di Pontianak

53. Menjadi Koreografer dalam Tari Kontemporer berjudul Democration Dream dalam Gelar Tari kreasi di Taman Budaya, Juni. 2009

54. Menjadi Koreografer dalam Acara Hari Besar Nasional 20 Mei 2009 Menampilkan Karya tari berjudul: Merah Putih di Taman Budaya Kalimantan Barat.

55. Memimpin Pementasan Tari Berjudul; Bemain Ngutek Pangan dalam rangka 17 Agustus 2009 di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat.

56. Memimpin Sanggar pada Upacara Adat Penyambutan Rombongan Tamu Kenegaraan Sarawak Dayak Nasional Union (SDNU) dan Menteri Kebudayaan Negara Bagian Serawak Malaysia Tgl. 22 November 2009 di Bandara Supadio. Menampilkan Tarian Ajat Temuai Datai.

57. Memimpin Sanggar pada Acara Penyambutan Tamu dari Negara Malaysia, Serawak Bidayuh Asosiation, dalam rangka kunjungan ke rumah Adat Dayak kalimantan barat tgl. 24 November 2009.

58. Memimpin Pertunjukan dalam Rangka Konsiliasi Taruna Merah Putih yang dihadiri Kangen Band 2009

59. Pentas di Hotel Kartika Pontianak Dalam Rangka Pertemuan Pemuka Kristen Nusantara Tgl. 5 November 2009 menampilkan Ngajat dan Tari Dara.

60. Pentas sebagai Penari Tari Tawaq Ke Ambon Dalam Rangka Pertemuan Kepala Museum Nusantara Tgl 6 – 9 November 2008

61. Ikut Perancang Pawai Budaya FBBK bergabung dengan Dewan Adat Dayak Kalbar Tgl. 11 November 2009 meraih juara 3 Kategori Ethnik.

62. Penata Tari Penyambutan dalam Acara Perkawinan di Gor Bumi Raya Utama Group, Desa Parit Baru Sungai Raya, Tgl. 19 Desember 2009 membawakan tarian Ngajat Temuai Datai dan Tari Dara.

63. Menyambut Tamu dalam Acara kunjungan Panglima Polisi Militer dari Jakarta Menarikan “Ngajat Temuai Datai” pada Tanggal 21 Desember 2009 di Bandara Supadio.

64. Mengisi acara Natal Sekadau di Auditorium Untan Tgl. 6 Desember 2009 menghadirkan Tari Ngajat Temuai Datai, persembahan, sendratari kelahiran Yesus.

65. Memimpin Sanggar pada acara Cap Go Me di Pontianak Kalimantan Barat, Mewakili Dewan Adat Dayak Kalimantan Barat, mengisi Tari Bala Onya Dayokng Tahun. 2010

66. Memimpin Sanggar pada acara Pertemuan Organisasi Balap Sepeda se Indonesia Tgl 20 Mei 2010 di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat membawakan tarian tradisi..

67. Menggarap ulang Tari Main Lalau yang di Pentaskan pada acara penutupan Pesta Perak Pekan Gawai Dayak Tgl 24 Mei 2010 di Rumah Betang Jl. Let Jend Sutoyo Pontianak.

68. Penyambutan Kapolda Kalimantan Barat bulan 9 September 2010 di rumah adat Dayak Pontianak. Menarikan “Ajat Temuai Datai “

69. Memimpin Pentas Tari Kontemporer dengan Judul: “Ajal” di Taman Budaya dalam rangka Gelar Karya Tari Unggulan Sanggar – Sanggar Tari di Kalimantan Barat, Oleh Dewan Kesenian Kalimantan Barat. 2009

70. Pentas dalam Rangka Ulang Tahun ke 30 tahun “Yayasan Kristen Abdi Agape “, menampilakan. “Sendratari 30 Tahun Kiprah Yayasan Abdi Agape” di Kalimantan Barat 2009

71. Sebagai Penari dalam Pertunjukan Tari Dengan Judul Bunyi dari Taman Budaya Kalbar, Dalam Pesta Seni Budaya dayak se- Kalimantan di Yogyakarta pd Tgl.22- 25 Oktober 2010 di Gedung UGM Yogyakarta.

72. Pentas Tunggal dalam Rangka Pementasan Sanggar-Sanggar yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat. Menampilkan karya-karya Sanggar Sengalang Burong, diantaranya: Dua Dunia di Teater tertutup Taman Budaya Kalimantan Barat. Pada tanggal 31 Oktober 2010.

73. Pentas Tunggal dalam rangka pementasan sanggar-sanggar dengan judul: Kilau Borneo yang diselenggarakan oleh Kreasi Seni Borneo dan Sanggar Sengalang Burong pada tanggal. 27 November 2011 di Taman Budaya.

74. Pementasan di Istana Negara dalam rangka mengisi pertunjukan pada Tgl. 17 Agustus 2011, sebagai kordinator team dari Kalimantan Barat.

75. Kordinator Team Tari Kalbar pada acara Pementasan Pameran Musium Internasional di Hotel Majestic River Site Serawak 24 – 27 Juni 2013.

76. Pementasan di Taman Mini Indonesia Indah. Sebagai Imam Adat Tarian berjudul: Burung Kenyalang, Jakarta. Agustus 2014

77. Kordinator Team Tari Kalbar pada acara Gelar Koreografi Lingkungan di Yogyakarta 31 – 3- 2013 di Pantai Sundak.

78. Penari Tarian Tunggal Ngajat Bebunoh dan Ngajat Banyau dalam kegiatan World Ekspo Milano di Milan Italia Eropa Tgl 7 -14 September 2015

79. Kordinator Pementasan Karya Tari Team Kalimantan Barat ke Sentubong Kuching Sarawak 1 Juni 2016, menampilkan kesenian Kalimantan Barat.

80. Kordinator World Harves Festival Team Kalimantan Barat ke Sentubong Kuching Sarawak 24 April 2017, menampilkan kesenian Tari Pingan dari Kalimantan Barat.

81. Konseptor Kegiatan Gelar Sanggar Kesenian, Festival Musik Sape’ selanjutnya World Musik Sape’, Gelar kreatif Tari Tradisi, Penyajian Film Dokumenter Warisan Budaya Kalbar, Pengembangan Film Dokumenter di Kalimantan Barat Tahun 2019-2022

82. Konseptor Gelar Sanggar Kesenian Kalbar di Rumah Radakng Tgl 20 Maret 2023 sebagai Pimpinan Produksi.

 

 PIAGAM PENGHARGAAN:

 

  1. Piagam Nomor: 431 / 25 / Disbudpar – B sebagai Penata Tari Terbaik I (Tari Dayak) se Kalimantan Barat. Tgl. 6 Desember 2003 dari: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat.
  2. Piagam No. 162 Tahun 2004, SK Gubernur Nomor: 377 Tahun 2004 sebagai Pemuda Pelopor di Bidang Budaya dan Pariwisata. Tgl. 27 September 2004 dari Gubernur Kalimantan Barat.
  3. Piagam Penghargaan Nomor: 431,1 / 13 / Disbudpar – B sebagai Nara Sumber Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Tari Daerah. Dari Walikota Singkawang 17 Desember 2005.
  4. Piagam Penghargaan Nomor: 002.6 / 017 / 2006. Sebagai Nara Sumber Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Tari Daerah. Dari Walikota Singkawang 22 Desember 2006
  5. Piagam Penghargaan Nomor: 431 / UTB – C Sebagai Pemateri Seni Tari dalam Kegiatan Pelatihan Tenaga Teknis Seni Tari, Musik dan Teater dari Unit Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat. 26 September 2004
  6. Piagam Penghargaan Sebagai Penata Tari dalam Gelar Seni Tradisi dan Kreasi di selenggarakan Unit Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat. Dalam Garapan Tari Berjudul Democration Dream 2009
  7. Piagam Penghargaan pada Tanggal; 7 Agustus 2010 sebagai Dewan Juri Tingkat Nasional di Jakarta dalam Rangka Pagelaran Tari Nusantara di TMII.
  8. Sertifikat dari Bengkel Suare Taman Budaya Kalbar, sebagai Pembina dalam kegiatan Operet Anak Khatulistiwa “Dukamu, Dukaku, Bahagiaku untukmu” Pada Tgl. 17 Juli 2011 dalam rangka Memperingati Hari Anak Nasional.
  9. Piagam Penghargaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat Nomor: 430/2827/DIKBUD/12.5 Tgl. 15 Desember 2017 sebagai Tim Perumus Kegiatan; ‘Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Tahun 2017 yang diikuti peserta didik Siswa/Siswi SD, SMP, SMA dan SMK Se_Provinsi Kalimantan Barat.
  10. Piagam Penghargaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat Nomor: 430/4735/DIKBUD-E Tgl. 5 Desember 2018 sebagai Tim Perumus Kegiatan; ‘Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Tahun 2018 yang diikuti peserta didik Siswa/Siswi SMA/SMK Se Provinsi Kalimantan Barat.
  11. Sertifikat dari Lembaga Sensor Film Republik Indonesia Tgl. 2 April 2019 sebagai Peserta “Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri, Wujud Kepribadian Bangsa” di Pontianak. BPNB (Balai Pelestarian Nilai Budaya)


PROFESI LAINNYA

 

  1. Pegawai Honor di Taman Budaya Tahun. 2003 – 2005 Surat Keterangan No. 800 / 47 / UTB - TU
  2. Guru Honor di SMA Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Pontianak Tahun. 2003 di Bidang Kesenian
  3. Guru Honor di SMA Gembala Baik Jl. A.Yani Tahun 2003 Pontianak
  4. Guru Honor di SMA Negeri 1 Putussibau Tahun 2006 Kapuas Hulu
  5. Aktif di Bidang Seni Tari Dewan Kesenian Kalimantan Barat berdasarkan SK Nomor: 03 / DK – KB/ 2004. Tgl 14 Mei 2003
  6. Pegawai Negeri Sipil di Bagian Umum Pemda Kapuas Hulu Tahun. 2004
  7. Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebagai Staf Kebudayaan, di Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu 2005 – 2007.
  8. Pegawai Negeri Sipil di Unit Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat 2007 sampai sekarang.
  9. Sebagai Dosen Honor di FKIP jurusan Seni Tari dan Musik 2008 sampai sekarang
  10. Dosen Honor Bidang Seni pada Program perkuliahan D3 ke S1 oleh STKIP Melawi Jurusan Seni 2009 di Pontianak.
  11. Menjabat sebagai Direktur Seni Pertunjukan Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat Tahun 2008 – 2011
  12. Nara Sumber dalam bimbingan Teknis Tari di Kabupaten Sanggau 2014

 

 

PENGALAMAN SEBAGAI JURI / PENGAMAT SENI:

 

  1. Pengamat Tari Kreasi Dayak pada Gawai Dayak Tahun 2008 di Pontianak
  2. Pengamat Tari Kreasi pada acara FBBL tahun 2009
  3. Pengamat Lomba Lagu Daerah pada acara FBBL Tahun 2009
  4. Pengamat dan team Penguji di Bidang Budaya dan Pariwisata pada Acara Pemilihan Bujang dan Dara di Event FBBL tahun 2009
  5. Pengamat Tari Kreasi Daerah dalam acara Festival Tari Kreasi Tingkat SMK Se- Kalbar di Taman Budaya Pontianak 2010
  6. Pengamat Tari dalam FBBK di Gedung PCC Pontianak Tahun 2010
  7. Pengamat Tari Kreasi pada acara Festival Borneo di Pontianak 2010
  8. Pengamat Tari dalam Parade Tari Nusantara Se-Indonesia di Jakarta TMII Agustus 2010
  9. Pengamat Tari, Pop Singer, Bujang Tarigas Man Dara Edo’ pada Festival Bumi Budaya  Landak Tgl. 10 – 12 Oktober 2010. Di Ngabang Kabupaten Landak.
  10. Tim Seleksi Calon Peserta Pertukaran Pemuda Antar Negara Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2019, 11-14 April di Graha Dekopinwil, Jl. Sutoyo No. 125 Pontianak. Bertugas Sebagai Tim Seleksi Seni Budaya (094/612/DIKBUD-E)

 

 PENGALAMAN PENELITIAN KESENIAN TRADISI:

 

1. Penelitian / Pengamatan Tari Ajat Temuai Datai di Belitang Hilir 1996 Kab   Sekadau. Hasilnya, Skripsi Tarian Ajat Temuai Datai sebagai Tugas Akhir Th. 2002 di ISI Yogyakarta.

2. Penelitian / Pengamatan Tari Pedang Mualang di Belitang Hilir Tahun 2009 Kab Sekadau Hasilnya catatan Tari Pedang Mualang dan pementasan Tari Pedang dari Kecamatan Belitang Hilir.

3. Penelitian / Pengamatan Tari Pingan di Belitang Hilir Tahun 2010 Kab Sekadau, Hasilnya Catatan Tari Pingan dan Pengenalan Publikasi Tari Pingan Mualang di Kampus FKIP Prodi Seni dan Thesis Tari Pingan Mualang 2014.

4. Penelitian / Pengamatan Musik Sengayong di Randau Kab Ketapang Kalbar Tahun   2011, Hasilnya Dokumen Video Musik Sengayong.

5. Penelitian Pengamatan Tari Pingan, Tari Alu, Permainan Balik Tupai, Tari Lang Nginang di Belitang Hilir Tahun 2013. Kab Sekadau, menghasilkan Thesis Tari Pingan Kajian Struktural Fungsional di Kecamatan Belitang Hilir Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat.